Iran pada Selasa mengecam serangan AS sehari sebelumnya sebagai tanda "iktikad buruk dan tidak dapat diandalkan" di tengah negosiasi yang masih berlangsung menuju kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Militer AS menyebut serangan Senin di Iran selatan bersifat defensif, menargetkan lokasi peluncuran rudal dan kapal yang memasang ranjau.
>>> Kecelakaan Kereta Tabrak Bus Sekolah di Belgia, 4 Tewas
AS mengaku bertindak dengan "pengendalian diri" mengingat gencatan senjata yang telah berlangsung beberapa pekan.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan itu sebagai pelanggaran gencatan senjata dan memperingatkan bahwa Washington akan bertanggung jawab atas "semua konsekuensi," tanpa memberikan rincian.
"Republik Islam Iran tidak akan membiarkan tindakan agresi apa pun tanpa balasan," demikian pernyataan resmi Iran.
Pasukan Garda Revolusi Iran pada Selasa mengaku telah menembak jatuh dan menghalau drone serta jet tempur yang memasuki wilayah udaranya, menurut kantor berita resmi Mizan.
Tidak disebutkan kapan insiden itu terjadi.
Belum jelas apa arti perkembangan ini bagi negosiasi.
Serangan terjadi setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf pergi ke Qatar sebagai bagian dari pembicaraan, yang menurut Presiden AS Donald Trump pada Senin berjalan "dengan baik."
Serangan ini merupakan gejolak terbaru dalam gencatan senjata rapuh yang dimulai 7 April dan sebagian besar bertahan.
Negosiasi berpusat pada Selat Hormuz, jalur air vital di selatan Iran yang menjadi lintasan seperlima minyak mentah dan gas alam dunia sebelum perang dimulai dengan serangan AS-Israel pada Februari.
Teheran membalas dengan menutup selat tersebut, menjebak ratusan kapal dan mengejutkan ekonomi global.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan ledakan pada Selasa pagi di sebuah kapal tanker di Teluk Oman, dekat selat.
