Tetapi bagi sebagian praktisi pengobatan tradisional, batu empedu alami tetap dianggap memiliki kualitas tertinggi. Kepercayaan itulah yang membuat harga versi alami terus meroket.
Di Indonesia sendiri, pembicaraan tentang batu empedu sapi sebenarnya bukan hal baru. Dari tahun ke tahun, selalu muncul cerita tentang organ sapi yang bisa dijual mahal. Bedanya, pada Idul Adha 2026, gaungnya jauh lebih besar karena diperkuat algoritma media sosial.
Satu video viral memancing video lain. Orang-orang mulai penasaran. Sebagian berharap beruntung menemukan “harta karun” di dalam sapi kurban.
Ada nuansa yang menarik dalam fenomena ini. Di satu sisi, Idul Adha adalah perayaan pengorbanan dan solidaritas sosial. Daging dibagikan, orang berkumpul, dan nilai kebersamaan menguat.
Tetapi di sisi lain, dunia digital bekerja dengan logikanya sendiri. Bahkan bagian organ paling tersembunyi dari seekor sapi pun bisa berubah menjadi komoditas yang diperebutkan.
Dari kantong empedu kecil di tubuh sapi tua, percakapan melompat ke pasar global, pengobatan tradisional, hingga spekulasi harga fantastis di media sosial Indonesia.
Barangkali itulah wajah zaman sekarang. Seekor sapi kurban tidak lagi hanya dibicarakan dari berat daging atau ukuran tanduknya. Isi perutnya pun bisa mendadak viral.