Warga Korea di Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap markas besar Starbucks di Seattle terkait kontroversi kampanye "Tank Day".
Mereka menilai masalah ini telah berkembang dari kesalahan pemasaran lokal menjadi masalah global yang menyentuh trauma sejarah Pemberontakan 18 Mei Gwangju.
>>> Trump: AS Belum Puas, Iran Sangat Ingin Capai Kesepakatan
Gerakan ini mendapat dukungan di MissyUSA, komunitas daring populer bagi warga Korea di luar negeri.
Pengguna berbagi contoh email protes dalam bahasa Korea dan Inggris, serta informasi kontak Starbucks, dan mendorong orang lain untuk langsung menghubungi perusahaan.
Banyak pesan merujuk pada kenangan pahit operasi militer 1980 di Gwangju, ketika tentara dan tank dikerahkan untuk membubarkan demonstran pro-demokrasi.
Kritikus mengatakan penggunaan frasa "Tank Day" dalam kampanye pemasaran telah meremehkan salah satu babak tergelap Korea Selatan.
"Saya tidak bisa diam setelah melihat kampanye itu," kata seorang wanita Korea di Seattle bernama Kim, yang mengaku mengirim email ke markas Starbucks awal pekan ini.
"Pada 18 Mei, tank bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan lelucon."
Yoo Jee-hee, 34 tahun, yang tinggal di New Jersey, mengatakan kontroversi ini mengubah cara pandangnya terhadap merek Starbucks.
"Saya belajar tentang pemberontakan Gwangju sejak kecil, jadi melihat istilah 'Tank Day' digunakan begitu santai sungguh mengejutkan," ujarnya.
>>> AS Butuh Waktu Bertahun-Tahun untuk Mengisi Kembali Senjata Canggih yang Digunakan dalam Perang Iran
"Ini tidak lagi terasa hanya masalah Starbucks Korea, karena sekarang nama Starbucks sendiri terkait dengan kontroversi ini."
Sebuah email yang beredar luas menggambarkan kampanye tersebut sebagai "sangat mengejutkan dan memprihatinkan" bagi mereka yang mengalami gerakan demokratisasi Korea Selatan pada 1980-an.