Seorang pria Palestina tewas ditembak oleh pasukan Israel pada Minggu (31/5) di tembok beton yang memisahkan Tepi Barat yang diduduki dari Yerusalem.
Kementerian Kesehatan Palestina mengidentifikasi korban sebagai Imad Haroun Ishtayeh, 26 tahun, dari desa Salem, timur Nablus.
>>> Iran Tak Percaya AS, Negosiasi Damai Masih Jauh
Menurut kementerian, Ishtayeh ditembak di paha di kota al-Ram dan dinyatakan meninggal di Kompleks Medis Palestina di Ramallah.
Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan orang-orang membawa jenazahnya dan menuruni tangga yang disandarkan pada tembok berduri, sementara lalu lintas tetap berjalan dan klakson berbunyi.
Polisi Israel mengatakan pria itu mencoba memasuki Israel secara ilegal dengan melintasi tembok pemisah.
Banyak orang telah ditembak saat mencoba menyeberang, termasuk seorang ayah berusia 44 tahun yang tewas awal bulan ini.
Ishtayeh sebelumnya menjalankan rumah potong ayam di desanya, Salem, untuk menafkahi ayahnya yang sakit.
Namun, bisnisnya memburuk akibat krisis ekonomi yang melanda Tepi Barat, sehingga ia memutuskan menyeberang ke Israel untuk mencari pekerjaan, kata kerabatnya, Nasser Ishtayeh, kepada Associated Press.
>>> Joo Soo-bin Gagal Manfaatkan Keunggulan 4 Pukulan di LPGA
Pada percobaan pertamanya, Sabtu (30/5), keamanan Israel sangat ketat. Setelah bermalam bersama warga Palestina lain yang berharap menyeberang, Ishtayeh mencoba lagi Minggu pagi dan ditembak.
"Ia langsung ditembak dengan peluru tajam dan meninggal di rumah sakit," ujar Nasser Ishtayeh.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak warga Palestina dari Tepi Barat yang mencoba masuk ke Israel secara ilegal untuk bekerja.
Puluhan ribu warga Palestina sebelumnya memiliki izin kerja Israel, tetapi akses dibatasi secara tajam setelah serangan militan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang di Gaza.
Sejak itu, pengangguran di Tepi Barat melonjak akibat perlambatan ekonomi.
>>> Polisi Prancis Tangkap 780 Orang Usai Kerusuhan Suporter PSG
Sekitar 50 pekerja tewas akibat tembakan Israel, dan lebih dari 38.000 ditangkap meskipun banyak yang kemudian dibebaskan, lapor kantor berita WAFA mengutip Federasi Umum Serikat Pekerja Palestina.