unique visitors counter
⌂ Beranda News Iran Tak Percaya AS, Negosiasi Damai Masih Jauh

Iran Tak Percaya AS, Negosiasi Damai Masih Jauh

Iran Tak Percaya AS, Negosiasi Damai Masih Jauh
Bendera Iran dan Amerika Serikat dalam konteks negosiasi
A A Ukuran Teks16px

Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Minggu (1/6) memperingatkan bahwa Amerika Serikat tidak dapat dipercaya.

Ia menegaskan Tehran tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Washington kecuali hak-hak Iran terjamin sepenuhnya.

>>> Joo Soo-bin Gagal Manfaatkan Keunggulan 4 Pukulan di LPGA

IN2

Pernyataan Ghalibaf muncul setelah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengirim proposal perdamaian yang lebih keras kembali ke Iran.

Hal ini menunjukkan kesenjangan yang masih perlu dijembatani oleh kedua pihak.

Setiap perubahan pada draf kesepakatan berpotensi menunda perjanjian untuk secara resmi mengakhiri perang Timur Tengah dan membuka kembali Selat Hormuz.

in2

Negosiasi yang berlangsung selama berminggu-minggu diwarnai retorika tajam dan kadang-kadang ledakan kekerasan.

Iran sebelumnya telah terlibat dalam pembicaraan dengan AS mengenai program nuklirnya pada Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara dan rudal yang melumpuhkan sebagian besar pimpinan senior Republik Islam.

Tehran bersikeras program nuklirnya untuk tujuan sipil, sementara AS dan sekutunya mencurigai Iran ingin mengembangkan senjata.

Proposal Lebih Keras dari Trump

The New York Times dan Axios melaporkan pada Sabtu (31/5) bahwa Trump telah mengirim kembali kerangka kerja baru yang "lebih keras" untuk dipertimbangkan Iran, meskipun detailnya masih belum jelas.

Trump mengatakan prioritasnya termasuk menghentikan Iran mengembangkan senjata nuklir dan membuka kembali jalur pelayaran Hormuz yang diblokade Iran sejak perang dimulai.

"Satu jaminan yang harus saya miliki adalah tidak akan ada senjata nuklir.

Mereka telah menyetujuinya, dan itu sangat menarik," kata Trump dalam wawancara dengan menantunya Lara Trump di acara Fox News.

Tehran sebelumnya meragukan pernyataan Trump dan kedua pihak masih terpaut jauh pada isu-isu kunci.

E
Tim Redaksi
Penulis: Eko Yulianto
📰 Update Terbaru