Olivia Rodrigo kembali menjadi sorotan.
Pelantun "Drivers License" itu mengenakan gaun babydoll di sampul album terbarunya, "You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love", yang akan rilis 12 Juni.
>>> Jeju Perbaiki Papan Tanda untuk Turis Asing yang Sering Salah Terjemah
Namun, pilihan busananya menuai kontroversi. Sejumlah warganet menilai gaun tersebut tidak pantas dan bermasalah.
Awal Mula Kontroversi
Rodrigo, 23 tahun, memulai era baru dengan balutan atasan off-shoulder dan celana pendar dari koleksi Chloe pre-fall 2026 di video musik single "Drop Dead".
Ia juga tampil dengan gaun babydoll rancangan Anna Sui untuk sampul album edisi eksklusif Target.
Gaun serupa dari label Generation78 dikenakannya saat tampil di Spotify Billions Club di Barcelona pada 8 Mei.
Kritik pun bermunculan. Beberapa pihak menuduh Rodrigo menampilkan diri sebagai "anak yang diseksualisasi".
Tanggapan Rodrigo
Rodrigo akhirnya angkat bicara. Dalam podcast Popcast milik The New York Times, ia menyebut kritik tersebut sebagai retorika yang aneh.
"Ini menunjukkan betapa kita menormalisasi pedofilia dalam budaya kita," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pakaian yang jauh lebih terbuka saat tur Guts tidak menuai kritik sekeras gaun babydoll.
"Kamu tidak seharusnya bertanggung jawab jika ada pria yang menseksualisasimu dengan cara yang tidak pernah kamu maksudkan," katanya.
Sejarah Gaun Babydoll
Bertentangan dengan namanya, gaun babydoll tidak dirancang untuk anak-anak. Desainer lingerie asal Amerika, Sylvia Pedlar, menciptakan gaya ini pada era Perang Dunia II.
>>> Steve Yoo Akhirnya Menyerah Kembali ke Korea Setelah 20 Tahun Kontroversi
Pedlar memperpendek gaun tidur yang ia rancang untuk menghemat kain akibat penjatahan.
Nama "babydoll" muncul kemudian, saat karakter utama film tahun 1956 berjudul Baby Doll mengenakan gaun tidur serupa.
