Sekitar 44.000 penggemar hadir di kedua hari tersebut.
Saat itu, kota menyambut penggemar dengan menerangi Jembatan Gwangan, Jembatan Pelabuhan Busan, dan Menara Yongdusan dengan cahaya ungu, warna khas grup.
Ini adalah salah satu contoh awal kota Korea yang memanfaatkan K-pop sebagai identitas perkotaan.
Momen penting berikutnya terjadi pada 15 Oktober 2022. Konser satu malam di Stadion Utama Busan Asiad mendukung pencalonan kota menjadi tuan rumah Expo Dunia 2030.
Konser gratis dan besar-besaran itu terasa seperti perpisahan.
Lebih dari 52.000 orang memadati stadion, sementara 100.000 lainnya menonton pertunjukan langsung di layar raksasa di Pantai Haeundae dan Pelabuhan Utara Busan.
Itu adalah pertunjukan terakhir BTS bersama sebelum anggota mulai mendaftar wajib militer.
>>> EJAE dan Andrea Bocelli Tampil di Pembukaan Piala Dunia 2026
Destinasi Wajib ARMY di Busan
Hampir empat tahun kemudian, BTS kembali, dan kota ini telah bertransformasi. Bagi ARMY, Busan selama musim konser lebih merupakan ziarah daripada persinggahan tur.
Penggemar telah berdatangan sejak beberapa hari sebelumnya.
Salah satu tempat paling ikonik adalah Desa Budaya Gamcheon, lingkungan perbukitan yang dimulai sebagai pemukiman pengungsi Perang Korea.
Di pusatnya terdapat mural besar Jimin dan Jung Kook yang dilukis oleh penggemar. Penggemar dari seluruh dunia mengantre untuk berfoto di depannya.
Tidak jauh dari sana, di Distrik Nam, terdapat ZM-illenial, kafe yang dijalankan oleh ayah Jimin. Dinding kafe dihiasi dengan karya seni penggemar dan surat tulisan tangan.
Piala dan plakat yang menandai perjalanan BTS juga masih dipajang.
Ayah Jimin menyimpan semua hadiah lama dan persembahan usang, dengan daftar putar BTS masih diputar di latar belakang.