Industri pariwisata dan kasino Korea Selatan berada di persimpangan jalan.
Para pelaku industri dan akademisi berkumpul dalam diskusi meja bundar yang digelar The Korea Times di Seoul, Kamis (17/6), untuk membahas strategi bertahan menghadapi megakompleks terpadu Jepang di Osaka yang akan dibuka pada 2030.
Proyek Osaka digadang-gadang bukan sekadar tempat berjudi.
Kang Sung-sook, profesor dari Tezukayama University Jepang yang hadir secara daring, mengatakan resor tersebut dirancang sebagai pusat inovasi untuk konferensi internasional, pameran, dan kegiatan korporasi.
Investasi Raksasa dan Target Pengunjung
Proyek ini digarap konsorsium yang melibatkan MGM Resorts International dan Orix, masing-masing memegang sekitar 44 persen saham. Sisanya 12 persen didukung 22 pemegang saham minoritas lokal.
Investasi awal mencapai 1,51 triliun yen (sekitar Rp 158 triliun).
Resor ini menargetkan 20 juta pengunjung per tahun, terdiri dari 14 juta wisatawan domestik dan 6 juta mancanegara.
Kang menekankan bahwa keberhasilan proyek Osaka tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga seberapa dalam resor itu hidup berdampingan dan memberi manfaat bagi komunitas lokal.
Pejabat setempat menghabiskan waktu bertahun-tahun mengadakan puluhan kuliah universitas dan seminar perusahaan untuk membangun konsensus publik.
Operator Lokal Minta Keringanan Regulasi
Operator kasino lokal di Korea menyatakan rasa krisis yang mendalam. Mereka mendesak pemerintah untuk meringankan beban administratif agar dapat meningkatkan daya saing global.
Kim Eom-kwon, pimpinan tim di Grand Korea Leisure (GKL), mengatakan seluruh sektor kasino domestik akan terkena dampak signifikan.
"Kami merasakan krisis yang kuat karena resor Jepang akan menarik banyak wisatawan dari Korea," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya ingin meningkatkan fasilitas tetapi sering menghadapi hambatan administratif yang rumit.
"Kami berharap ada lingkungan regulasi yang mendorong pertumbuhan dan inovasi, bukan hanya mengandalkan peraturan ketat," kata Kim.
Lee Dae-shin, kepala tim strategi kasino Kangwon Land, mencontohkan bahwa perusahaan publik harus melalui studi kelayakan pendahuluan yang panjang sebelum melakukan investasi baru.
"Prosesnya bisa memakan waktu beberapa tahun. Untuk bersaing secara efektif, kami membutuhkan prosedur administrasi yang lebih ramping," jelasnya.
Kim Ho-saeng, pimpinan bagian strategi kasino Kangwon Land, menambahkan bahwa pemerintah seharusnya tidak hanya fokus pada K-culture untuk menarik 30 juta wisatawan asing per tahun.
"Memiliki resor terpadu yang kompetitif secara global adalah pilar yang sama pentingnya," kata Kim.
Rebranding untuk Bertahan
Para ahli sepakat bahwa Korea harus menghilangkan stigma negatif terhadap kasino dan mengubahnya menjadi ruang hiburan ramah keluarga.
Lee Min-jae, direktur dewan Pusat Riset Pariwisata Resor Terpadu, mengatakan publik masih mengasosiasikan kasino dengan perjudian, bukan hiburan komprehensif.
"Kasino lokal sudah berkontribusi signifikan bagi komunitas, tetapi citra publik masih negatif. Kami perlu memastikan kontribusi keuangan industri digunakan dengan cara yang bisa langsung dirasakan warga," ujar Lee.
Lee Jae-seok, profesor di departemen manajemen pariwisata Universitas Nasional Kangwon, menekankan perlunya transformasi struktural.
"Kita harus mengubah kasino dari tempat perjudian sederhana menjadi destinasi hiburan komprehensif yang benar-benar ingin dikunjungi orang," katanya.
Ia menjelaskan bahwa meningkatkan aksesibilitas transportasi dan mengembangkan konten nonperjudian adalah langkah krusial untuk bertahan jangka panjang.
Kim Jae-kyoung, wakil presiden The Korea Times, menekankan perlunya perubahan paradigma.
"Ketika orang berpikir tentang Marina Bay Sands di Singapura, mereka membayangkan pusat konvensi dan hiburan canggih, bukan sekadar tempat judi.
Kita sangat membutuhkan upaya rebranding strategis serupa di Korea," ujarnya.
Seo Won-suk, presiden Masyarakat Ilmu Pariwisata Korea, menutup diskusi dengan menyoroti perubahan standar global. "Jepang fokus pada pertumbuhan kualitatif dan penciptaan nilai, bukan hanya mengejar jumlah pengunjung.
Korea harus mengadopsi kebijakan proaktif untuk membina industri ini dan memastikan kelangsungan sektor pariwisata lokal," pungkasnya.