Jam makan siang tradisional di pusat bisnis Seoul seperti Gwanghwamun, Gangnam, dan Yeouido mengalami perubahan besar. Semakin banyak pekerja kantoran yang memilih sleep cafe daripada restoran.
Bagi banyak orang, waktu makan siang kini berubah menjadi kesempatan 20 hingga 30 menit untuk pemulihan fisik dan mental.
>>> 11 Tur Jalan Kaki Jelajahi Pusat Bersejarah Seoul
Mereka memanfaatkan fasilitas tidur singkat di kafe khusus.
Kwon, seorang ekonom berusia pertengahan 30-an yang bekerja di Gwanghwamun, Jongno District, mengaku telah menggunakan sleep cafe selama beberapa bulan.
Ia bekerja di perusahaan global dengan budaya makan siang yang fleksibel.
"Saya biasanya membawa bekal dan makan di meja kerja, lalu pergi tidur siang sebentar di Nabijam," ujarnya dalam wawancara Jumat lalu.
Menurutnya, makan siang di luar sering terasa lebih melelahkan karena harus berdesakan dan mengantre.
Ia menambahkan bahwa tidur siang memberikan istirahat nyata dari kantor dan orang-orang.
"Terutama di Korea, di mana waktu makan siang kadang terasa seperti perpanjangan kerja, menikmati 'me time' dengan tidur siang memberikan pemisahan fisik dan mental yang diperlukan dari tempat kerja."
Jaringan Tempat Istirahat Perkotaan yang Berkembang
Nabijam, yang berlokasi di Gwanghwamun, beroperasi sebagai sistem tanpa staf 24 jam.
Slot dapat dipesan dalam kelipatan 10 menit, dengan biaya sekitar 10.000 won (Rp 120.000) untuk 30 menit.
>>> Mengapa Orang Korea Berbondong-bondong Curhat ke Nenek TV yang Blak-blakan
Pengunjung mendapatkan ruang pribadi dengan kursi pijat premium untuk tidur siang yang nyenyak.
Tren ini juga menjamur di Myeong-dong dan Gangnam, dengan sleep cafe seperti Mr. Healing dan ZAMSHH yang menawarkan kursi pijat atau kamar kecil dengan tempat tidur.