Iran kembali menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz dan mendesak Amerika Serikat mengakui kekalahan.
Presiden AS Donald Trump menyebut Iran sebagai negara yang sangat jahat dan meminta warganya bersiap menghadapi harga bahan bakar yang terus tinggi.
>>> Danantara Housing Expo: 10 Rumah Subsidi Gratis Menanti Pengunjung
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa selat tersebut hanya akan dibuka dan ditutup atas perintah Iran.
Ia menambahkan bahwa selama AS belum menerima kenyataan kekalahan, blokade akan terus diberlakukan.
Harga Bensin AS Naik 29 Persen
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran belum memutuskan untuk melanjutkan perundingan dengan AS.
Ia menegaskan bahwa Washington harus memenuhi syarat terkait selat tersebut agar pelayaran dapat kembali normal.
Trump mendesak warga AS untuk menerima harga bensin yang sedikit lebih tinggi selama konflik dengan Iran berlanjut.
Dalam rapat umum di Garden City, New York, Jumat, ia mengatakan bahwa membayar sedikit lebih untuk bensin sepadan dengan memastikan negara yang sangat jahat tidak memiliki senjata nuklir.
Harga rata-rata bensin di AS mencapai sekitar 4,08 dolar per galon pada Jumat, naik 29 persen dari tahun sebelumnya.
Kenaikan ini memicu inflasi dan mengecewakan pemilih, sementara Partai Demokrat berupaya menjadikan dampak perang sebagai isu dalam pemilihan kongres November.
Harga minyak mentah berjangka naik 1 dolar per barel pada Jumat. Brent berjangka menuju kenaikan mingguan 6,0 persen, sementara West Texas Intermediate naik 5,4 persen.
Dampak Ekonomi di Iran
Meskipun bersikap menantang, Iran juga merasakan dampak ekonomi.
>>> BAZNAS, Danantara, Kemenkop, dan MES Teken MoU Perkuat Zakat dan Koperasi Syariah
Presiden Masoud Pezeshkian dalam pernyataan di televisi pemerintah menyalahkan inflasi tinggi pada blokade pelabuhan oleh AS dan sanksi terhadap ekspor minyak Iran.
