Orang Korea yang suka pedas mendorong batas rasa pedas. Hal ini melahirkan produk legendaris seperti Shin Ramyun (1986) dan Buldak Ramen (2012).
>>> Busan Gelar Festival Sihir Internasional ke-21 dengan Kompetisi dan Pertunjukan Gala
"Saya mengaitkan kesuksesan mi instan Korea dengan dua faktor: keseimbangan rasa dan kualitas, serta kemampuannya memadukan rasa pedas secara harmonis," kata Ji.
Pasar global kini sangat dipengaruhi merek Korea. Indomie dari Indonesia, produsen mi terbesar ketiga dunia, bahkan mempekerjakan NewJeans untuk mempromosikan lini "Korean ramyeon" mereka.
Menariknya, Korea Utara juga mengkloning Shin Ramyun dan Buldak untuk diekspor ke China dengan nama lokal seperti "Spicy Kimchi Mixed Noodles."
Membela Nilai Gizi Mi Instan
Penelitian Ji juga menjadikannya pembela nilai gizi mi instan. Ia berpendapat kampanye kesehatan modern telah memfitnah makanan ini secara tidak adil.
"Mi instan Korea awalnya diperkenalkan untuk melawan kelaparan, dan pada akhir 1960-an bahkan dipasarkan sebagai 'makanan bergizi'," jelas Ji.
"Reputasinya sebagai makanan tidak sehat bukan karena mi instan itu beracun, tapi karena menjadi kambing hitam penyakit gaya hidup modern akibat kelebihan kalori dan kurang olahraga."
Ia menambahkan, "Saya tidak mengklaim ini makanan kesehatan, tapi nilai sosial-ekonominya sebagai makanan murah sangat besar.
Banyak profesional di industri mi Korea bekerja keras mengembangkan produk berkualitas dengan harga rendah."
Inovasi Terbaru Setelah Buldak
Bagi konsumen internasional yang mencari tren baru setelah Buldak, Ji merekomendasikan lini pasta dan spageti fusion Korea.
Inovasi seperti seri Tangle pasta dari Samyang, Shin Ramyun Toomba dan rasa rose dari Nongshim, serta seri ARIH Modern Noodle dari Paldo (kolaborasi dengan BTS) menunjukkan fleksibilitas industri.
"Untuk menarik konsumen internasional, industri mi instan Korea mengadaptasi hidangan favorit Barat seperti pasta dan spageti. Hasilnya sangat lezat dan berkualitas tinggi," katanya.
Ke depan, Ji berfokus menjadikan mi instan sebagai warisan budaya. Ia bercita-cita membangun museum resmi dan mendirikan departemen khusus di universitas.
>>> Pameran Seni Thailand Debut di Korea Selatan di Museum Nasional
"Bahkan sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang, saya ingin terus berbagi nilai dan pesona mi instan dengan dunia," pungkas Ji.
