Bagi kebanyakan orang, mi instan hanyalah makanan cepat dan murah.
Namun bagi Ji Young-jun, kritikus mi instan pertama di Korea, mi instan adalah sejarah, ilmu pangan, dan fenomena budaya.
>>> Kebiasaan Sederhana untuk Mengurangi Gigitan Nyamuk
Perjalanan Ji dimulai saat ia menjalani wajib militer setelah gagal ujian masuk perguruan tinggi.
Saat berjalan di lorong toko militer, ia mendapat ide untuk mencicipi semua mi instan yang tersedia.
"Sebelum menyelesaikan dinas, saya menetapkan tujuan sederhana: mencicipi setiap mi instan yang ada di sini," kenang Ji. "Tujuan itu mengubah hidup saya di militer menjadi penuh semangat."
Pada 2013, ia mulai membagikan ulasan detail di media sosial. Selama sepuluh tahun, ia menjadi guru SD sambil menekuni hobi ini.
Ketika minat global terhadap budaya Korea melonjak berkat K-pop dan Buldak Ramen, Ji melihat kekosongan.
Amerika punya Hans Lienesch sebagai "The Ramen Rater", tapi Korea belum punya kritikus profesional.
"Saya merasa menyesal.
Orang Korea sangat menyukai mi instan, dan kualitas mi kita terbaik di dunia, tapi tak ada yang secara profesional memperkenalkannya," ujarnya.
Ji pun berhenti dari pekerjaannya sebagai guru. Hingga kini, ia telah mengulas lebih dari 2.300 varian mi domestik dan internasional.
Pada 2024, ia menerbitkan buku "The Chronicles of 'Ramyeon' — A History of Korean Instant Noodles" yang telah diterjemahkan ke bahasa Jepang dan Rusia.
Tahun ini, ia merilis "Ramyeon with Science and Common Sense" untuk meluruskan mitos kesehatan.
Mi Instan sebagai Fenomena Global
Ji mencatat bahwa mi instan ditemukan pada 1958 oleh Momofuku Ando dari Jepang. Namun saat Samyang Foods memperkenalkannya ke Korea lima tahun kemudian, mi instan berevolusi berbeda.
