Di Seoul, tren pesta introvert semakin populer sebagai alternatif bersosialisasi yang lebih tenang. Acara ini dirancang khusus bagi mereka yang ingin terhubung tanpa tekanan alkohol dan kebisingan.
Pada 6 Juni lalu, enam orang berkumpul di sebuah ruang pesta remang-remang di Yeongdeungpo, Seoul barat.
Mereka mengikuti 'Deep Talk Club', salah satu dari sekian banyak acara untuk kaum introvert yang kini bermunculan.
Pertanyaan sederhana seperti 'Apa artinya hidup autentik?' mampu membuat ruangan hening.
Seorang peserta menjawab, 'Bagiku, itu berarti tidak peduli penilaian orang lain dan tidak berbohong pada diri sendiri.'
Acara ini menggunakan kartu perkenalan dan topik diskusi tentang kehidupan dan nilai pribadi. Beberapa acara bahkan melarang atau membatasi alkohol agar percakapan tetap fokus.
Fenomena Pesta Introvert
Istilah 'pesta introvert' mungkin terdengar kontradiktif, namun format ini sudah mapan dalam budaya pertemuan sosial Korea.
Aplikasi komunitas Munto bahkan mencantumkan pesta introvert bersama pesta anggur dan permainan papan.
Di Instagram, tagar #introvertparty telah digunakan lebih dari 500 kali. Karena introvert cenderung jarang mengunggah konten, pasar sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar.
Banyak peserta datang untuk mencari pasangan. Kwon, seorang peserta, mengaku alasan utamanya adalah mencari kekasih.
'Dalam hubungan yang berkelanjutan, saya harus berhati-hati dengan kata-kata. Tapi di acara sekali ini, saya bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya,' katanya.
Daya Tarik Percakapan Mendalam
Heo, 33, yang menyebut dirinya introvert ekstrem, merasa acara ini cocok karena memungkinkannya bertemu banyak orang dan berinteraksi bermakna dalam satu kesempatan.
Ia juga memuji pencahayaan yang tidak terlalu terang dan kebebasan memilih topik.
Kim, 27, bergabung karena penasaran dengan pemikiran orang seusianya. 'Saya senang bisa mendengar begitu banyak perspektif berbeda,' ujarnya.
Lee Min-jin, 29, lebih menyukai pertemuan introvert yang memungkinkan percakapan tulus dalam kelompok kecil, daripada acara besar yang berfokus pada alkohol atau hiburan.
Menariknya, acara ini juga menarik ekstrovert. Choi Ji-won, 26, mengaku menyukai kenyamanan saat berbincang dengan introvert.
'Kamu bisa mengobrol dengan tenang tanpa reaksi berlebihan,' katanya.
Tantangan dan Peran Host
Tae Kwan-young, penyelenggara Uyeonhan Agit, mengatakan bahwa ia sendiri seorang introvert. 'Bahkan introvert pun punya keinginan untuk berekspresi dan berbagi ide dengan orang lain,' ujarnya.
Ha, 33, yang menjalankan Sayu Club, mengatakan peserta sering bercanda menyebut diri mereka 'kumpulan pengungsi pesta besar'.
Tingkat pengulangan kehadiran cukup tinggi, dengan lebih dari setengah peserta mendaftar lagi.
Namun, sifat acara ini menghadirkan tantangan tersendiri. Karena semua orang baru pertama kali bertemu dan tidak ada 'jiwa pesta', keheningan canggung sering terjadi.
Peran host menjadi krusial untuk memecah ketegangan.
Han Dong-kwon, 35, penyelenggara Introverts' Night, mengatakan ia terus menyediakan konten yang layak dipikirkan agar peserta bisa membuka diri.
Perspektif Ahli
Lim Myung-ho, profesor psikologi di Dankook University, mengatakan pertemuan introvert bisa menjadi sumber stabilitas psikologis. Namun ia memperingatkan agar tidak terlalu bergantung.
'Jika kamu hanya bertemu orang yang persis seperti dirimu, pengalamanmu dalam membangun hubungan di lingkungan baru bisa terganggu,' kata Lim.
Kwak Keum-joo, profesor psikologi di Seoul National University, mengatakan tren ini mencerminkan kecenderungan memilih pertemuan yang bermakna.
Namun ia mengingatkan bahwa lingkaran sosial bisa menyusut jika hanya bertemu orang yang serupa.
Ia menyarankan agar orang mempertimbangkan bahwa 'pertemuan yang tidak nyaman dan perbedaan bisa menawarkan kesempatan untuk bertumbuh.'