Australia dan Solomon Islands pada Selasa (7/7) berkomitmen memperkuat hubungan bilateral dan mengkritik uji coba rudal balistik China yang diluncurkan dari kapal selam bertenaga nuklir di Samudra Pasifik.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, yang bertemu dengan Perdana Menteri Solomon Islands Matthew Wale di Honiara, menyatakan Canberra tidak ingin melihat tindakan yang dapat mengganggu perdamaian dan keamanan di Pasifik.
"Tidak diragukan lagi ini adalah tindakan provokatif oleh China yang mengganggu stabilitas kawasan," kata Albanese dalam konferensi pers bersama Wale.
Albanese menambahkan bahwa China tidak mengikuti prosedur standar dengan memberikan pemberitahuan 48 jam sebelum uji coba. Namun, kekhawatiran utama adalah rudal tersebut ditembakkan dari kapal selam nuklir.
Sebuah kapal selam nuklir Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China meluncurkan rudal dengan hulu ledak palsu menuju perairan internasional di Pasifik pada Senin (6/7) pukul 12.01 waktu setempat, demikian menurut kantor berita Xinhua.
Rudal tersebut mendarat di "perairan yang ditentukan," tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai lokasinya.
Uji coba rudal China menuai kritik dan kekhawatiran dari Amerika Serikat, Australia, Jepang, Selandia Baru, dan Taiwan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan Beijing berharap negara-negara lain "tidak akan menafsirkan secara berlebihan masalah ini."
Meskipun China adalah mitra dagang terbesar Australia, Canberra tetap waspada terhadap pengaruh Beijing yang meluas di Pasifik dan tengah menjalin kesepakatan keamanan dengan negara-negara kepulauan untuk mencegah China mendirikan pangkalan militer permanen di Pasifik Selatan.
Australia dan sekutunya, AS, telah lama menganggap Pasifik Selatan sebagai wilayah pengaruh mereka.
Wale, yang menjabat pada Mei lalu, mengatakan China adalah "teman baik Solomon Islands, tetapi ini bukanlah yang dilakukan seorang teman."
"Kami tidak ingin melihat negara mana pun—China, Amerika, siapa pun—menguji rudal balistik antarbenua di kawasan Kepulauan Pasifik.
Itulah intinya. Jadilah teman kami, tapi jangan ancam kami," tegas Wale.
Solomon Islands dinilai analis memiliki hubungan paling dekat dengan Beijing di antara negara-negara Pasifik setelah menandatangani pakta keamanan dengan China pada 2022.
Kesepakatan itu memicu kekhawatiran dari AS dan meningkatkan upaya diplomatik Australia di kawasan.
Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Taiwan, Joseph Wu, mengunggah gambar di media sosial yang menunjukkan rudal terbang di atas Filipina dan mendarat di antara Tonga dan Nauru, sekitar 1.000 km dari Solomon Islands.
"China baru saja membuktikan dirinya sebagai pengganggu di kawasan," tulis Wu.
China jarang menembakkan rudal jarak jauh ke laut. Uji coba rudal balistik antarbenua terakhir China dilakukan pada 2024.
Percepatan Perjanjian Komprehensif
Albanese dan Wale sepakat untuk melanjutkan negosiasi perjanjian komprehensif baru di tengah serangkaian pengumuman strategis baru-baru ini.
Australia menandatangani pakta dengan Fiji pada Senin dan Vanuatu bulan lalu.
Albanese mengatakan Australia ingin mempercepat negosiasi sesegera mungkin, dan menargetkan perjanjian komprehensif serta pengaturan dengan Solomon Islands.
"Kami menginginkan kualitas, bukan dengan tergesa-gesa, tetapi kami telah melakukan diskusi yang sangat konstruktif," ujarnya.
Wale, dalam kunjungan resmi ke Australia bulan lalu, mengatakan akan meninjau kembali pakta keamanan dengan China.