Beberapa bulan lalu, seorang mahasiswa internasional di Korea menerima telepon dari nomor tak dikenal. Penelepon mengaku sebagai instansi pemerintah dan menyebut data pribadi korban.
Saat hampir percaya, aplikasi perbankan sang mahasiswa tiba-tiba memberikan peringatan tentang penipuan voice-phishing. Peringatan itu dikeluarkan oleh asisten manajer kecerdasan buatan (AI), bukan staf bank.
>>> Esai Ekonomi: Keuangan di Era AI, Mengapa Kepercayaan Lebih Penting dari Efisiensi
Pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap AI di sektor keuangan. Ia menyadari bahwa kepercayaan pada sistem peringatan AI lebih besar daripada pada suara manusia di telepon.
Layanan Hibrida: Kombinasi AI dan Manusia
AI telah mengubah cara lembaga keuangan melayani nasabah. Asisten AI dapat menjawab pertanyaan secara instan dan memberikan dukungan 24 jam.
Namun, layanan pelanggan tidak boleh sepenuhnya otomatis. Yang membantu bukan hanya teknologi, tetapi juga rasa diperhatikan.
Lembaga keuangan perlu mengembangkan model layanan hibrida yang menggabungkan efisiensi teknologi dengan dukungan manusia. Pendekatan satu ukuran untuk semua tidak tepat.
Nasabah lanjut usia mungkin memerlukan antarmuka sederhana dan bantuan langsung, sementara mahasiswa internasional butuh panduan multibahasa. AI harus membantu bank mengidentifikasi kebutuhan berbeda ini.
Pencegahan Penipuan dengan AI
Penipuan telah meluas sehingga perusahaan di seluruh dunia kehilangan sekitar 5 persen pendapatan tahunan akibat aktivitas curang.
Kerugian siber global diperkirakan melebihi 10,5 triliun dolar AS per tahun.
Dengan jutaan transaksi setiap detik, lembaga keuangan tidak bisa hanya mengandalkan pemantauan manusia. AI dapat melengkapi keahlian manusia dengan mengidentifikasi pola mencurigakan dalam skala besar.
Program ASAP di Korea membantu lembaga keuangan berbagi informasi kasus penipuan. Sistem serupa dapat berguna bagi bank lain karena kejahatan finansial semakin internasional.
