Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Iran pada Minggu dini hari, 11 Juli 2026, sebagai respons atas serangan Iran terhadap sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz yang menyebabkan kapal terbakar dan awaknya meninggalkan kapal.
Iran dilaporkan membalas dengan menyerang Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA).
>>> Senator AS Lindsey Graham Meninggal Dunia di Usia 71 Tahun
Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam negosiasi antara Iran dan AS untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari lalu.
Sekitar seperlima minyak dan gas alam yang diperdagangkan global melewati selat tersebut sebelum perang.
Kendali Iran atas selat itu selama perang menyebabkan krisis energi global, meskipun harga minyak telah turun tajam dari puncak perang di $120 per barel.
Serangan AS dan Respons Iran
Komando Pusat Militer AS mengatakan pihaknya menyerang sekitar 140 target, jauh lebih banyak dari dua putaran sebelumnya, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, gudang amunisi, peralatan komunikasi, dan lokasi lainnya.
Serangan tersebut disebut untuk "menurunkan kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang melintasi selat secara bebas."
Serangan ini terjadi beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan sementara dalam perang Iran "sudah berakhir."
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menulis di media sosial: "Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka membayar."
Negara Teluk Diserang
UEA memperingatkan warganya pada Minggu tentang serangan rudal dan drone yang akan datang, sementara ledakan terdengar di Qatar.
Militer Qatar mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka mencegat tembakan Iran yang masuk.
Peringatan rudal juga terdengar di Bahrain, kerajaan kepulauan di Teluk Persia yang menjadi markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS.
