Mengadaptasi film horor populer seperti Gonjiam: Haunted Asylum (2018) adalah langkah berisiko tinggi. 402 Rumah Sakit Angker Korea (2026) berani mengambil tantangan itu dengan menambahkan sentuhan lokal.
Gonjiam (2018) garapan Jung Bum-shik dianggap sebagai salah satu film horor found footage terbaik. Delapan tahun setelah rilis, reputasinya masih sulit ditandingi.
>>> Sons of Valhalla Diskon 75 Persen di Steam, Saatnya Bangun Pasukan Viking
Kelebihan Produksi dan Sinematografi
Dari segi produksi, film ini dibuat dengan niat. Desain set rumah sakit terbengkalai terlihat meyakinkan, dengan efek poltergeist yang patut diacungi jempol.
Gambar yang jernih menjadi nilai tambah dibanding film horor lokal yang sering gelap-gelapan. Sutradara Anggy Umbara menyesuaikan kualitas visual dengan standar konten YouTube era 2024.
Scoring hanya muncul di adegan penting, efisien dalam membangun suasana tanpa berlebihan.
Unsur Indonesia yang Terpaksa
Sayangnya, niat menghadirkan mistik Indonesia seperti jelangkung dengan batok kelapa dan mantra berbahasa Korea justru terasa cringe.
Perpaduan ini seperti ramyun dicampur mi soto—ada yang cocok, ada yang aneh.
Padahal, kehadiran anak muda Indonesia dan orang Korea berbahasa Jawa medok sudah cukup untuk memberikan nuansa lokal. Unsur mistik tradisional terasa dipaksakan dan tidak logis dalam konteks cerita.
Cerita Tambahan yang Kurang Matang
Film ini menambahkan twist tentang kultus sesat yang sempat ramai di Korea Selatan. Meski positif, pengembangan cerita terasa ganjil dan kurang terencana.
>>> POCO Pad C1 Resmi di Indonesia, Layar 2K 120Hz dan Baterai 7.600 mAh, Harga Rp2,2 Juta
Dalam Gonjiam asli, misteri dibiarkan menggantung untuk menjaga tensi horor. Namun, tim kreatif mungkin ingin memenuhi selera penonton Indonesia yang lebih suka penjelasan gamblang.
