Bitcoin melemah pada perdagangan Senin (13/7/2026) setelah harga minyak melonjak menyusul serangan baru Amerika Serikat terhadap Iran.
Kenaikan biaya energi memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan kembali meningkat, sehingga mengurangi minat investor terhadap aset berisiko seperti kripto.
>>> Bangun Komunitas Pelanggan, MAXUS Indonesia Perkenalkan Program MAXUS GALA
Kripto terbesar di dunia itu sempat turun hingga 3,8% ke US$61.761 atau sekitar Rp1,12 miliar (kurs Rp18.069/US$) sebelum memangkas pelemahannya.
Penurunan tersebut membawa Bitcoin kembali berada di bawah rata-rata pergerakan (moving average) 200 pekan, level teknikal yang kerap menjadi sinyal dimulainya pasar bearish berkepanjangan.
Ether, aset kripto terbesar kedua, juga ikut tertekan dan sempat turun hingga 3,9%.
Analis: Level Teknikal Bisa Jadi Sinyal Pembelian
Kepala Analis Pasar FxPro Alex Kuptsikevich mencatat bahwa secara historis, ketika harga menyentuh rata-rata pergerakan 200 pekan, itu menjadi sinyal yang cukup baik bahwa fase utama koreksi Bitcoin mulai berakhir.
>>> Profil Rudi Margono, Plt Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah
Menurutnya, titik tersebut bisa menjadi momen tepat untuk mulai membangun posisi investasi jangka panjang secara bertahap.
Namun, ia mengingatkan bahwa narasi tersebut dapat berubah dengan cepat dan tidak menjanjikan pemulihan harga dalam waktu singkat.
Meningkatnya kembali konflik antara AS dan Iran memicu kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak akan kembali mendorong inflasi dan suku bunga.
>>> Astronom Temukan Bukti Gula di Ruang Antarbintang
Kondisi tersebut biasanya mengalihkan aliran dana dari aset berisiko seperti Bitcoin ke instrumen yang lebih aman.

