Seorang seismolog Amerika Serikat keturunan China yang pernah meneliti deteksi uji coba nuklir Korea Utara telah ditahan di China selama hampir dua tahun dan akan diadili atas tuduhan spionase.
Kasus Youlin Chen, 54 tahun, menambah ketegangan dalam hubungan antara dua negara bersenjata nuklir tersebut.
>>> Menakar Ketangguhan Ekonomi RI di Semester I-2026
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah menetapkan Chen sebagai "tahanan yang salah" pada 19 Maret lalu, menjadikan pembebasannya sebagai prioritas utama AS.
Istri Chen, Yufang Rong, mengatakan bahwa pemerintahan Trump menahan pengumuman publik untuk memberi ruang bagi diplomasi tingkat tinggi.
Seorang sumber AS yang mengetahui kasus ini mengatakan bahwa pemerintahan Trump fokus pada pembebasan Chen dari penahanan yang tidak dapat dibenarkan.
Rong mengaku telah diberi tahu oleh Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri bahwa saat kunjungan kenegaraan ke Beijing pada Mei lalu, Trump membahas penahanan suaminya dengan pemimpin China Xi Jinping.
Xi berjanji akan meninjau kasus tersebut, namun hingga kini belum ada tindakan.
Diinterogasi soal studi uji coba nuklir
Pejabat kedutaan AS telah beberapa kali mengunjungi Chen, namun selalu didampingi pejabat China sehingga ia tidak bisa berbicara bebas.
Rong mengatakan bahwa suaminya telah diinterogasi lebih dari 100 kali tentang penelitiannya mengenai tanda seismografis uji coba nuklir Korea Utara.
Eric Lebson, mantan pejabat keamanan nasional AS yang kelompoknya membantu keluarga Chen, mengatakan bahwa China diduga ingin memanfaatkan keahlian Chen untuk menyembunyikan uji coba nuklir bawah tanah melalui teknik decoupling.
>>> Magang Nasional Dibuka 15 Juli 2026, Simak Syarat dan Cara Daftar
Pemerintahan Trump pada Februari lalu menuduh China berusaha menutupi ledakan uji coba nuklir bawah tanah pada 22 Juni 2020 menggunakan teknik tersebut.
