Indikator utama inflasi harga produsen di Amerika Serikat tercatat lebih rendah dari perkiraan pada Juni.
Data ini menunjukkan tekanan harga di tingkat hulu sempat mereda sebelum eskalasi terbaru perang Iran kembali memanas.
>>> Diduga Korsleting Listrik, Rumah Karyawan Swasta di Serang Terbakar
Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) merilis data pada Rabu (15/7) yang menunjukkan Indeks Harga Produsen (IHP) inti, tidak termasuk makanan dan energi, naik 4,7% secara tahunan.
Angka ini di bawah perkiraan rata-rata dalam survei Bloomberg.
Perlambatan inflasi IHP sebagian besar didorong oleh penurunan harga bensin sebesar 12%.
Laporan tersebut mengindikasikan pendinginan harga yang merata di beberapa kategori utama yang sebelumnya melonjak akibat dampak perang.
>>> Kejagung Pastikan Penyidikan Korupsi MBG Lanjut, 50 Saksi Diperiksa
Situasi ini memberikan ruang lebih bagi Federal Reserve (The Fed) untuk menunda kenaikan suku bunga acuan.
Apalagi laporan terpisah pada Selasa juga menunjukkan inflasi harga konsumen yang jinak di bulan Juni.
Namun, dengan kembali memanasnya konflik di Timur Tengah, kondisi ini diperkirakan hanya berlangsung singkat.
Setelah rilis laporan, kontrak berjangka indeks saham AS menguat sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) turun.
>>> Biaya Kuliah Naik, IFG Life Soroti Ketahanan Finansial
Para investor mulai mengurangi spekulasi kenaikan suku bunga The Fed pada Juli ini. Pergerakan pasar mencerminkan ekspektasi bahwa bank sentral akan tetap akomodatif dalam waktu dekat.

