Bursa saham Asia diperkirakan dibuka bervariasi pada perdagangan Kamis (16/7/2026).
Pergerakan ini mengikuti sesi Wall Street yang menguat setelah rilis data inflasi harga produsen (IHP) Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan.
Kontrak berjangka indeks saham menunjukkan potensi penurunan di Jepang dan Korea Selatan. Sementara itu, bursa Hong Kong dan Australia diperkirakan menguat.
Kontrak untuk indeks S&P 500 terpantau stabil di awal perdagangan Asia, setelah naik 0,4% pada Rabu.
Sebaliknya, indeks Nasdaq 100 yang padat saham teknologi terkoreksi 0,3%.
Di pasar komoditas, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak naik tipis. Ini melanjutkan tren penguatan tiga hari berturut-turut setelah AS meluncurkan serangan udara baru ke wilayah Iran.
Obligasi pemerintah AS menguat setelah data inflasi produsen Juni melandai. Hal ini mendorong pelaku pasar mengurangi spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini.
Pasar kini hanya memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sekitar tiga basis poin pada bulan ini. Angka itu setara dengan peluang kurang dari 10% untuk kenaikan 25 basis poin.
Mata uang dolar AS melemah untuk hari kedua berturut-turut menyusul data inflasi yang lebih rendah.