Pelemahan rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) sedikit terpangkas menjadi 0,17% di Rp18.129/US$ pada pukul 07:40 WIB, Rabu (15/7/2026).
Sebelumnya, pada pukul 06:00 WIB, rupiah sempat bertengger di Rp18.271/US$.
>>> DJKA Targetkan 190 Perlintasan Sebidang Dipasang Palang Pintu pada 2026
Volatilitas rupiah pagi ini dipicu oleh melonjaknya harga minyak mentah yang naik 1,39% menjadi US$85,9 per barel.
Kenaikan ini terjadi akibat ketidakpastian di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran kembali bersitegang.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan yang dapat mendorong inflasi. Meski begitu, sebagian mata uang kawasan Asia hari ini bergerak menguat.
Mata Uang Asia Lainnya Menguat
Di pasar yang sudah buka, ringgit Malaysia memimpin penguatan bersama baht Thailand, yen Jepang, dolar Singapura, yuan China, dan yuan offshore.
Sebaliknya, won Korea Selatan kembali melemah.
>>> IHSG Diprediksi Konsolidasi, Pasar Cermati Outlook Fiskal dan Revisi HSC
Penguatan sebagian mata uang kawasan ditopang oleh berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS (FFR) pada Juli.
Data inflasi AS yang dirilis Selasa waktu setempat menunjukkan perlambatan pada Juni untuk pertama kalinya dalam enam tahun.
Perlambatan inflasi AS menjadi angin segar bagi aset di Asia.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengakui data inflasi Juni lebih baik dari ekspektasi, tetapi menekankan bahwa perjuangan masih panjang.
>>> Harga Emas Perhiasan 24K Hari Ini 15 Juli 2026 Turun Jadi Rp2,250 Juta per Gram
"Saya tidak datang ke sini dan mengatakan misi telah selesai. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," ujar Warsh dalam rapat bersama Kongres, seperti dikutip Bloomberg News.

