Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengangkat tuduhan tanpa bukti bahwa Pemilu 2020 telah dicuri.
Ia menyampaikan klaim tersebut dalam pidato kenegaraan pada jam tayang utama, Kamis (16/7) dari Ruang Timur Gedung Putih.
>>> Curhat Viral di Threads: Tamu Hotel Bintang 5 Dilarang Bawa Stroller Naik Lift
Trump mengatakan pidatonya bertujuan menjabarkan temuan dari laporan intelijen yang baru dideklasifikasi.
Dokumen itu disebut memuat kerentanan sistem pemungutan suara, upaya China mencuri data pemilih AS, kecurangan registrasi pemilih di Michigan, serta klaim adanya lebih dari 200.000 warga non-negara bagian dalam daftar pemilih tetap.
"Tujuan kami membagikan informasi ini bukanlah untuk melemahkan kepercayaan publik terhadap pemilu, melainkan untuk meraih kepercayaan tersebut dengan cara menghadapi kerentanan yang ada dan memperbaikinya dengan sangat, sangat cepat," ujar Trump.
>>> Link maganghub.kemnaker.go.id Error? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Pidato yang berlangsung sekitar 25 menit itu juga menuduh pejabat pemerintah AS menutupi intervensi pemilu oleh China dan aksi peretasan siber di Venezuela.
Namun, sebagian besar data yang dirilis di situs Gedung Putih bersamaan dengan pidato tersebut tampak tidak lengkap atau hanya berisi informasi lama yang sudah diketahui publik.
>>> Mayoritas Yield Obligasi RI Turun, Tenor Likuid dan Acuan Justru Naik
Langkah Trump ini memicu keraguan publik atas keamanan pemilu paruh waktu mendatang. Ia memilih fokus pada kekecewaan politik masa lalunya di tengah momen krusial yang mengancam kursi kepresidenannya.
