Perjalanan seorang pekerja migran tidak selalu berakhir ketika masa kerja di luar negeri selesai.
Bagi Rosyidah, kepulangan ke kampung halaman justru menjadi awal langkah baru membangun usaha yang bermanfaat.
>>> Daftar Game Penghasil Saldo DANA Gratis Juli 2026, Ada yang Bisa Cair Mulai Rp1.000
Perempuan asal Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu itu pernah bekerja empat tahun di Malaysia.
Setelah kembali, ia memilih memanfaatkan potensi hasil laut yang melimpah di wilayah pesisir.
Rosyidah melihat banyak hasil tangkapan laut dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai ekonomi terbatas. Hal itu mendorongnya mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah.
Ia mendirikan usaha olahan hasil laut dengan merek C'milzea. Usaha itu juga membuka peluang kerja bagi para ibu nelayan di sekitarnya.
"Saya melihat sumber daya alam di sekitar sangat melimpah, tetapi belum memiliki nilai jual.
Dari situ saya memberanikan diri mengolahnya menjadi produk sekaligus membuka peluang kerja untuk ibu-ibu nelayan," ujarnya.
Tantangan terbesar yang dihadapi bukan hanya soal produksi atau pemasaran, tetapi juga membangun rasa percaya diri sebagai pelaku usaha.
Rosyidah harus belajar mengubah pola pikir agar lebih optimistis.
Keinginan untuk terus berkembang membawanya mengikuti Pelatihan Purna Pekerja Migran yang diselenggarakan BRI melalui program BRI Peduli.
Pelatihan itu menjadi titik balik yang memperkuat kemampuan kewirausahaan dan membuka jejaring baru.
"Pelatihan ini sangat membantu saya dalam memperbaiki mindset sebagai pelaku usaha. Selain itu, saya juga mendapatkan jejaring baru yang sangat bermanfaat untuk pengembangan usaha," tuturnya.
Pelatihan dan KUR Dorong Usaha Semakin Berkembang
Selama mengikuti pelatihan, Rosyidah memperoleh materi mengenai pengembangan usaha, mulai dari pengelolaan bisnis hingga inovasi produk bernilai tambah.
