Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan sebaran titik panas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama fenomena El Nino di Indonesia.
Titik panas tersebut tersebar di daerah gambut seperti Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
>>> Motorola Razr Fold Dinilai Jadi Salah Satu HP Lipat Terbaik 2026, Unggul di Baterai dan Performa
Selain itu, pemerintah juga mengidentifikasi titik panas di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan sejumlah daerah lain.
Raja Juli menyebutkan adanya tren kemunculan titik api di luar dari biasanya.
"Ini ada tren baru ya di luar enam provinsi itu juga terjadi cukup masif, semacam di NTT, kemudian di NTB, di beberapa tempat lah.
Jadi nanti kita akan bahas lebih detail," ujarnya, Rabu (29/07/2026).
>>> Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026, Ini Daftar Wilayah yang Bisa Menyaksikan Fenomena Langka
El Nino Lebih Cepat dari Perkiraan
Fenomena El Nino datang lebih cepat dibandingkan siklus biasanya. Berdasarkan prediksi BMKG, El Nino seharusnya terjadi pada 2027, tetapi akan terjadi pada tahun ini.
Akibatnya, fenomena kekeringan akan datang lebih cepat dan berakhir lebih lambat.
Meski demikian, Raja Juli mengatakan pemerintah telah berhasil menekan luas kebakaran hutan dan lahan.
Pada 2015, luas kebakaran mencapai 2,6 juta hektare, turun menjadi 2,1 juta hektare pada 2019, dan 1,1 juta hektare pada 2023.
>>> IHSG Ditutup Melemah ke 6.091, Tertekan Saham Big Cap dan Sentimen Global
Pada 2025, luas kebakaran juga turun dari 375.000 hektare menjadi 350.000 hektare.
