Kementerian Luar Negeri China pada Senin mengecam seruan CEO Anthropic Dario Amodei agar Amerika Serikat membatasi kemampuan kecerdasan buatan China.
Juru bicara Guo Jiakun menilai peringatan tersebut sebagai fearmongering yang justru mengganggu proses tata kelola AI global.
Dalam esai panjang yang diterbitkan Sabtu, Amodei memperingatkan bahwa kepemimpinan China di bidang AI akan menimbulkan bahaya serius bagi Amerika Serikat dan dunia.
Ia menyerukan pembatasan penjualan chip AI tercanggih dan peralatan pembuat chip ke China agar AS tetap unggul secara teknologi.
Guo menegaskan bahwa fearmongering, konfrontasi, dan persaingan kejam hanya akan mengganggu proses tata kelola AI global dan tidak menguntungkan siapa pun.
Ketegangan AI AS-China
Pemimpin China juga menyuarakan kekhawatiran soal AI, termasuk risiko yang ditimbulkan entitas asing dengan kemampuan canggih.
Seorang pejabat keamanan senior China menerbitkan esai pada Sabtu yang menuduh negara-negara tertentu memanfaatkan keunggulan AI untuk menghambat inovasi negara lain.
Pada Minggu, Presiden Donald Trump menepis seruan agar pemerintahannya memperlambat pengembangan AI.
Trump menyatakan AS memimpin atas China dalam AI dan siapa pun yang memenangkan AI akan memenangkan segalanya.
Trump dan pemimpin China Xi Jinping diperkirakan membahas tata kelola AI dalam pertemuan yang direncanakan pada 24 September.
Perusahaan China telah mengembangkan model AI kuat yang sering lebih murah digunakan dibandingkan model canggih dari perusahaan AS, dan menurut beberapa ukuran, kemampuannya setara.
Dalam esainya, Amodei memprediksi sekelompok agen AI dapat mengambil alih internet dalam enam hingga 12 bulan kecuali para peneliti sepakat memperlambat.
Ia menyebut bahwa global pacing akan memerlukan kerja sama dengan China, negara otokratis dengan kemampuan AI paling maju saat ini.
