Jason Arday, sosiolog asal Inggris yang dikenal sebagai profesor kulit hitam termuda di Universitas Cambridge, mengumumkan pengunduran dirinya pada Rabu malam (6/8/2026).
Langkah ini diambil setelah universitas membuka penyelidikan atas dugaan plagiarisme dan pertanyaan seputar kualifikasi akademiknya.
>>> Modus Rekrutmen Pegawai Dapur MBG, Pria di Pandeglang Tipu 400 Orang
Arday, yang berusia 37 tahun saat diangkat menjadi profesor pada 2023, menyatakan keputusan ini diambil setelah menghadapi tuduhan dan spekulasi yang berkepanjangan.
"Meskipun kritik adalah bagian tak terhindarkan dari kehidupan akademis, apa yang saya alami telah melampaui perbedaan pendapat ilmiah," ujar Arday dalam pernyataannya.
Ia menambahkan bahwa tuduhan tanpa henti dan komentar publik telah berdampak besar pada dirinya dan orang-orang yang dicintainya.
Pernyataan tersebut didistribusikan oleh Good Law Project, kelompok kampanye yang mendukung Arday sejak kritik muncul di media bulan lalu.
Karier dan Tuduhan
Pengangkatan Arday di Cambridge menyoroti kisah pribadinya yang mengatasi disleksia, keterlambatan perkembangan, dan autisme.
Ia pernah mengatakan bahwa ia tidak bisa berbicara hingga usia 11 tahun dan tidak bisa membaca hingga usia belasan.
Pertanyaan tentang kualifikasinya pertama kali muncul bulan lalu oleh Nathan Cofnas, mantan peneliti filsafat Cambridge yang mengkritik program keberagaman.
Pada 24 Juli, The Times of London menerbitkan analisis tesis doktoral Arday tahun 2015 yang menunjukkan beberapa bagian yang "identik atau hampir identik" dengan makalah peneliti lain.
>>> Pengedar Tramadol dan Eximer di Tangerang Diciduk Polisi
Media Inggris juga mempertanyakan klaim Arday bahwa ia mengumpulkan 5,5 juta pound (sekitar Rp 110 miliar) untuk amal melalui aksi seperti lari 30 maraton dalam 35 hari.
Arday mengatakan kepada The Guardian bahwa uang tersebut dikumpulkan dengan bantuan orang lain selama 20 tahun, namun ia tidak dapat menyebutkan nama mereka karena perjanjian kerahasiaan.
