Jakarta kembali mencatat kualitas udara yang tidak sehat pada Jumat, 14 Agustus 2026. Berdasarkan data IQAir, indeks kualitas udara (AQI) di ibu kota mencapai angka 170.
Angka tersebut menempatkan Jakarta pada peringkat keempat sebagai kota dengan udara terburuk di dunia saat data diperbarui pagi ini.
Polutan utama yang mendominasi adalah partikel halus PM2.5 dengan konsentrasi 80,3 mikrogram per meter kubik.
Partikel ini berukuran sangat kecil dan menjadi parameter penting dalam pemantauan kualitas udara.
Tingginya konsentrasi PM2.5 membuat masyarakat perlu waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.
Anak-anak, orang dewasa yang aktif berolahraga, serta kelompok sensitif disarankan mempertimbangkan kondisi udara.
Perlu dicatat, kualitas udara tidak bersifat statis.
Angka AQI dapat berubah sepanjang hari karena dipengaruhi cuaca, arah dan kecepatan angin, suhu, kepadatan kendaraan, serta aktivitas yang menghasilkan emisi.
Dengan demikian, kondisi udara pada pagi hari belum tentu sama dengan siang atau malam hari. Data ini hanya menggambarkan situasi pada saat pemantauan dilakukan.