Menjelang peringatan 81 tahun Indonesia, sejumlah insan dan karya pop lokal menuai sorotan mancanegara.
Agnez Mo dan Anggun moncer di Barat, no na makin viral, dan musisi Indonesia kian rajin konser luar negeri.
Capaian itu memperpanjang jejak budaya pop Indonesia yang sudah melanglang buana, seperti film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), Before, Now & Then (Nana) (2022), dan Jumbo (2025).
Meski terlihat menanjak, pengamat budaya populer Hikmat Darmawan menilai industri kreatif Indonesia belum memiliki posisi di pasar dunia.
Ia menekankan perlunya penguatan infrastruktur, distribusi, dan strategi agar karya serta talenta lokal bersirkulasi berkelanjutan.
"Sebetulnya kalau kita mau merayakan atau mengapresiasi sirkulasi artis-artis kita di panggung internasional, itu sering kali kita terjebak pada definisi seakan itu baru sekarang," kata Hikmat kepada CNNIndonesia.
com beberapa waktu lalu.
"Jadi ada keterputusan dengan sejarah budaya populer di Indonesia yang sebetulnya tidak berangkat dari ruang kosong."
Ia mencontohkan film Indonesia yang telah mengikuti festival internasional sejak 1960-an, seperti Badai Selatan (1961) yang berlaga di Festival Film Internasional Berlin pada 1962.
Menurutnya, capaian itu menunjukkan karya Indonesia telah lama punya ruang dalam percakapan budaya dunia.
"Jadi ini bagian dari perjalanan panjang kita untuk bersuara di dunia," ujar Hikmat.
"Nah, lantas masuk ke sekarang, memang ada beberapa hal yang perlu diapresiasi, itu perubahan metode atau moda produksi dan sirkulasinya."
"Jadi sebenarnya kita enggak pernah enggak internasional, cuma memang caranya dan metode, moda produksi dan moda sirkulasinya itu yang perlu dipelajari."
Hikmat menilai kualitas karya bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan di pasar internasional. Distribusi dan infrastruktur justru berperan besar mempertemukan karya dengan audiens yang tepat.
Ia mencontohkan Rich Brian dan Homicide, grup hip-hop asal Bandung. Keduanya mungkin punya kualitas sama kuat, tetapi jalur sirkulasinya berbeda.
Sementara Voice of Baceprot memiliki jalur berbeda melalui subkultur metal.
Keberagaman talenta dan karya Indonesia yang punya audiens serta jalur sirkulasi masing-masing menunjukkan persoalannya bukan pada ketiadaan potensi menembus pasar internasional.
"Dari dulu kita selalu punya potensi yang bagus. Cuma kita bisa terjebak middle-income trap.
Itu karena infrastruktur maupun strateginya keropos," kata Hikmat. "Jangan sampai kita keropos terus-terusan dan terus-menerus terjebak pada potensi saja."
"Semua produk budaya kita punya potensi nilai ekonomi, meskipun bentuknya berbeda-beda," kata Hikmat Darmawan.
"Bukan hanya kualitas intrinsik karyanya, barangkali itu tidak terlalu berhubungan.
Sebuah karya boleh sangat bagus, tetapi kalau tidak tersirkulasi dengan baik karena tidak ada kanalnya, hasilnya sama saja," lanjutnya.
Hikmat juga menilai Indonesia tidak harus menjadikan Amerika Serikat atau Eropa sebagai satu-satunya tujuan.
Pasar regional dan negara-negara global south juga dapat menjadi peluang, termasuk bagi perkembangan karya seperti no na.
Hanya saja, ambisi global perlu berjalan beriringan dengan penguatan pasar domestik. Menurut Hikmat, "ukuran keberhasilan utama seniman atau produser budaya itu revenue stream, bukan eksistensi di luar."
"Sudah digarap optimal belum pasar di dalam negeri, pasar domestik?" katanya.
"Kita [populasi] 200 berapa juta, itu tuh pasar. Beroptimallah berenang-renang di sini saja dulu."
Oleh karena itu, tantangan industri kreatif Indonesia dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan bukan lagi membuktikan kualitas talenta, melainkan membangun sistem yang membuat kualitas itu bertahan dan menghasilkan nilai ekonomi.
Bagi Hikmat, keberhasilan individu di luar negeri tetap layak diapresiasi.
Namun, capaian tersebut baru berdampak besar apabila mampu membangun ekosistem yang memberi semakin banyak talenta dan karya Indonesia kesempatan berkembang.
"Tapi kalau membangun pasar, dalam arti memakmurkan sebanyak mungkin seniman dengan karya mereka, ya di Indonesia saja masih banyak PR-nya."