unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Kematian Jason Arday Picu Perdebatan di Inggris soal Standar Akademik dan Rasisme
News

Kematian Jason Arday Picu Perdebatan di Inggris soal Standar Akademik dan Rasisme

Jason Arday, profesor Cambridge yang meninggal dunia
Kematian Jason Arday Picu Perdebatan di Inggris soal Standar Akademik dan Rasisme
A A Ukuran Teks16px

Jason Arday, profesor termuda kulit hitam dalam sejarah Universitas Cambridge, ditemukan tewas di apartemennya di London selatan pada Jumat lalu.

Kematian pria berusia 41 tahun itu memicu perdebatan sengit di Inggris tentang standar akademik, peran media, dan rasisme.

Arday menjadi sorotan pada 2023 ketika Cambridge mengumumkan pengangkatannya sebagai profesor sosiologi pendidikan.

Ia dipuji sebagai profesor kulit hitam termuda dalam sejarah universitas tersebut, meskipun memiliki latar belakang autisme yang membuatnya tidak bisa berbicara hingga usia 11 tahun.

Kritik terhadap Universitas dan Media

James Cleverly, anggota parlemen kulit hitam yang pernah menjabat menteri, menilai sejumlah universitas gagal melakukan uji tuntas terhadap Arday.

Menurutnya, institusi akademik terlalu bersemangat menjadikan Arday sebagai 'anak ajaib' karena usianya yang muda dan latar belakangnya.

Di sisi lain, Patrick Vernon yang baru mendapat gelar kebangsawanan untuk kerja kesetaraan ras, menyoroti perlakuan media terhadap Arday.

Ia menilai liputan yang berlebihan mencerminkan standar ganda yang diterapkan pada orang kulit berwarna.

Vernon mengatakan Arday diperlakukan setara dengan perdana menteri atau pejabat tinggi negara, padahal ia hanya seorang akademisi.

"Tingkat pengawasan yang dihadapi mendiang Profesor Jason Arday tidak pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.

Kronologi Kasus dan Investigasi

Pertanyaan tentang kualifikasi Arday mencuat bulan lalu setelah Nathan Cofnas, mantan peneliti Cambridge, menemukan bukti plagiarisme dalam disertasi doktoral Arday.

The Times of London dan media lain kemudian menerbitkan analisis yang menunjukkan banyak bagian yang identik dengan karya akademisi lain.

Media juga mempertanyakan klaim Arday tentang pencapaian pribadinya, seperti berlari 30 maraton dalam 35 hari dan mengumpulkan dana amal 5,5 juta poundsterling.

Cambridge awalnya membela Arday, tetapi akhirnya membuka investigasi pada 5 Agustus setelah menerima informasi baru.

Arday mengundurkan diri pada hari yang sama. Universitas Glasgow dan Durham, tempat Arday sebelumnya mengajar, juga mengumumkan investigasi mereka sendiri.

Kanselir Cambridge, Chris Smith, membela keputusan universitas dan mengkritik liputan media. Ia menegaskan pentingnya integritas akademik, tetapi juga menolak ikut serta dalam 'perburuan rasis' terhadap seorang akademisi.

Lebih dari 107.000 orang menandatangani surat terbuka yang menyerukan penyelidikan publik terhadap liputan media tentang Arday. Surat itu menuduh media melakukan 'pelecehan pers dengan nuansa rasis'.

Steven Barnett, profesor komunikasi di Universitas Westminster, menyalahkan surat kabar arus utama yang menerbitkan 289 cerita tentang Arday dalam 22 hari.

Menurutnya, tekanan media jelas berdampak besar pada Arday.

Namun, Charles Moore, mantan editor Daily Telegraph, berpendapat bahwa Cambridge seharusnya menyelidiki kekhawatiran tentang Arday sejak 2023.

Jika demikian, Arday mungkin tidak akan mengalami rasa malu akibat liputan media yang luas.

Sarah Ditum di The Times menilai Arday adalah kisah yang sah karena tindakannya merugikan akademisi yang diplagiat, kepercayaan publik, dan dosen lain.

Namun, ia mengakui bahwa cerita ini mendapat perhatian lebih karena terjadi saat musim panas ketika parlemen tutup.

Sementara itu, Patrick Vernon mengingatkan bahwa di balik pemberitaan ada seorang pria, suami, dan ayah.

Ia membuat kampanye GoFundMe untuk keluarga Arday yang telah mengumpulkan lebih dari 193.000 poundsterling.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru