Menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) kembali menggulirkan nama-nama besar putra terbaik daerah untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.
Salah satu nama yang paling menyita perhatian publik adalah Raden Mas (RM) Margono Djojohadikusumo. Sosok ini bukan hanya dikenal sebagai tokoh ekonomi nasional, melainkan juga kakek dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Bersama ulama besar KH Sholeh Darat, RM Margono resmi diusulkan oleh Pemprov Jateng untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun ini. Pengusulan ini dinilai sangat beralasan mengingat jejak pengabdian keduanya yang luar biasa bagi fondasi ekonomi dan spiritual bangsa.
Penggagas Lahirnya Bank BUMN Pertama
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Tengah, Imam Maskur, mengungkapkan bahwa usulan gelar untuk RM Margono dan KH Sholeh Darat bukanlah hal yang baru. Proses ini telah melalui kajian mendalam dan panjang sejak tahun 2025.
"Untuk Pak Margono, pengabdiannya di bidang ekonomi sangat luar biasa. Beliau adalah salah satu pemikir utama dan tokoh sentral di balik pendirian Bank Negara Indonesia (BNI) pada tahun 1946. Ini adalah kontribusi monumental bagi kemandirian ekonomi bangsa kita di masa awal kemerdekaan," ujar Imam Maskur, Kamis (20/8/2026).
Secara historis, RM Margono Djojohadikusumo memang memiliki rekam jejak yang gemilang. Ia tercatat sebagai Presiden Direktur pertama Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada tahun 1946 dan memainkan peran krusial dalam merumuskan kebijakan moneter serta perbankan di masa-masa sulit pasca-proklamasi. Usulan ini secara resmi digulirkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas, daerah asal sang tokoh.
Sosok KH Sholeh Darat, Guru Para Pendiri Ormas Islam
Tak kalah istimewa, Pemprov Jateng juga mengusulkan KH Sholeh Darat dari Kota Semarang. Bagi masyarakat yang mendalami sejarah Islam di Nusantara, nama KH Sholeh Darat (Samaran) adalah sebuah legenda.
Imam Maskur menjelaskan bahwa kontribusi KH Sholeh Darat lebih berfokus pada bidang keagamaan, pendidikan, dan literasi Islam yang membentuk karakter bangsa.
"Kayak KH Sholeh Darat, pertimbangan utamanya adalah karya-karya beliau. Kitab-kitab yang beliau tulis menjadi rujukan penting. Selain itu, pengaruh spiritual beliau sangat besar, mengingat beliau adalah guru dari tokoh-tokoh besar seperti KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari," tambahnya.
Proses Birokrasi dan Harapan di Hari Pahlawan 2026
Imam memastikan bahwa seluruh tahapan administratif di tingkat daerah telah rampung. Berkas usulan telah mendapatkan rekomendasi dari Gubernur Jateng, Komjen Pol. (Purn.) Ahmad Luthfi, dan kini tengah berada di meja Kementerian Sosial (Kemensos) RI.
"Ini prosesnya sudah klir semua, sudah di kementerian. Sudah kami kirimkan pada April 2026 lalu setelah dapat rekomendasi Gubernur. Sekarang kewenangan dan keputusan penetapan berada di tangan pemerintah pusat," jelas Imam.
Jika Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) menyetujui usulan tersebut, maka RM Margono dan KH Sholeh Darat berpeluang besar untuk resmi disematkan gelar Pahlawan Nasional pada puncak peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2026 mendatang.
Lima Tokoh Legendaris Jateng Lainnya yang Kembali Diusulkan
Selain dua tokoh utama tersebut, Pemprov Jateng juga gigih memperjuangkan lima sosok legendaris lainnya yang sebelumnya telah diusulkan namun belum mendapatkan gelar. Aspirasi masyarakat yang kuat menjadi bahan bakar utama bagi pemerintah daerah untuk terus mengirimkan berkas ini ke pusat.
Berikut adalah lima tokoh asal Jawa Tengah yang kembali diusulkan:
- dr. Kariadi (Kota Semarang): Dokter dan ahli biologi kelautan yang gugur saat memeriksa persediaan air bersih di Rumah Bahasa menjelang Pertempuran Lima Hari di Semarang. Pengorbanannya menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah.
- Bambang Sugeng (Kabupaten Temanggung): Tokoh militer yang memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan dan kedaulatan negara di masa awal kemerdekaan.
- Bambang Soeprapto Dipokoesoemo (Kabupaten Banyumas): Tokoh pejuang yang dedikasinya bagi daerah dan bangsa tak pernah surut oleh waktu.
- Basoeki Probowinoto (Kota Salatiga): Sosok yang dikenal dengan kontribusi sosial dan politiknya dalam membangun fondasi masyarakat di era pergerakan.
- Roebiono Kertopati (Kabupaten Purworejo): Tokoh yang memiliki karya dan pengabdian luar biasa bagi kemajuan daerah dan negara.
"Seperti dr. Kariadi, karyanya dan pengorbanannya luar biasa, sampai sekarang belum dapat gelar. Maka kami usulkan kembali agar segera diakui oleh negara," pungkas Imam.
Kini, publik dan masyarakat Jawa Tengah menanti kabar baik dari Istana Negara. Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi RM Margono, KH Sholeh Darat, dan lima tokoh lainnya tidak hanya akan menjadi kebanggaan bagi keluarga dan daerah, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi muda akan pentingnya dedikasi tanpa batas bagi Ibu Pertiwi.