Langit Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, belakangan ini menyajikan pemandangan yang tidak biasa dan memicu rasa penasaran sekaligus kekhawatiran warga. Pada Kamis sore (20/8/2026), matahari tampak berwarna merah menyala dan pekat, terlihat jelas menggantung rendah di balik lapisan kabut asap yang menyelimuti kota. Fenomena alam yang langka ini sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat setempat hingga viral di berbagai platform media sosial.
Fenomena matahari merah ini bukan sekadar tontonan visual semata, melainkan indikator nyata dari kondisi kualitas udara yang memburuk. Warga yang mengabadikan momen tersebut melaporkan bahwa intensitas warna merah terlihat sangat kuat, memberikan nuansa dramatis sekaligus mencekam pada pemandangan sore hari yang biasanya cerah.
Kesaksian Warga: Pemandangan yang Mengganjal dan Mengingatkan
Salah satu warga Palangka Raya, Sri Muliati, mengaku takjub sekaligus khawatir saat menyaksikan langsung fenomena tersebut. Ia mengabadikan momen ketika matahari tampak seperti bola api raksasa yang berwarna merah darah, seolah-olah terperangkap di antara siluet pepohonan dan tebalnya kabut.
"Mataharinya merah banget pada Kamis sore kemarin. Jujur, saya baru pertama kali melihatnya sedramatis ini," ujar Sri, sebagaimana dilansir dari detikKalimantan, Jumat (21/8/2026).
Bagi Sri dan banyak warga lainnya, pemandangan ini bukan sekadar keanehan alam, melainkan pengingat pahit akan siklus tahunan yang kerap menghantui wilayah Kalimantan. Kabut asap yang menjadi "filter" alami berwarna merah tersebut diduga kuat berkaitan dengan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah titik wilayah Kalimantan Tengah.
Penjelasan Ilmiah BMKG: Mengapa Matahari Bisa Berwarna Merah?
Menanggapi kehebohan yang terjadi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Palangka Raya segera memberikan klarifikasi ilmiah untuk meredam spekulasi yang beredar di masyarakat.
Prakirawan BMKG Palangka Raya, Chandra, menjelaskan bahwa fenomena matahari merah pekat ini merupakan dampak langsung dari interaksi antara cahaya matahari dan partikel polutan di udara. Ketika terjadi karhutla, sejumlah besar partikel halus seperti debu, abu, dan aerosol (termasuk PM2.5 dan PM10) dilepaskan ke atmosfer.
"Benar, penampakan ini sangat dipengaruhi oleh kabut asap karhutla yang sedang terjadi di wilayah Kalimantan Tengah," jelas Chandra.
Ia menambahkan, berdasarkan citra sebaran asap yang terekam pada Kamis sore, sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah memang telah tertutup oleh lapisan asap yang cukup tebal. Secara ilmiah, ketika cahaya matahari melewati lapisan atmosfer yang dipenuhi partikel asap, terjadi proses yang dikenal sebagai hamburan Rayleigh (Rayleigh scattering).
"Partikel-partikel di udara akan menghamburkan warna cahaya dengan panjang gelombang pendek, seperti biru dan hijau, sehingga lebih banyak tersebar. Sementara itu, warna dengan panjang gelombang lebih panjang, seperti merah dan oranye, mampu menembus lapisan asap tersebut dan mencapai mata pengamat di permukaan bumi," imbuh Chandra secara rinci.
Efek ini, lanjutnya, akan semakin terlihat jelas ketika posisi matahari mulai rendah menjelang sore hari, karena cahaya harus menempuh jarak yang lebih panjang melalui atmosfer yang penuh polutan dibandingkan saat matahari berada di puncak siang hari.
Konteks Lingkungan: Karhutla dan Tantangan Kualitas Udara
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari konteks lingkungan yang lebih luas. Kalimantan Tengah, dengan dominasi lahan gambutnya, memang memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran, terutama saat musim kemarau tiba. Lahan gambut yang kering sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan, menghasilkan asap tebal yang tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan masyarakat dan ekosistem setempat.
Kejadian matahari merah di Palangka Raya seharusnya menjadi alarm keras bagi berbagai pihak. Ini adalah bukti visual yang tak terbantahkan mengenai degradasi kualitas udara yang sedang berlangsung. Jika dibiarkan, paparan asap karhutla dalam jangka panjang dapat memicu berbagai masalah kesehatan pernapasan, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, hingga iritasi mata pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Imbauan Kesehatan dan Langkah Antisipatif
Mengingat kondisi ini, BMKG bersama dengan Dinas Kesehatan setempat mengimbau kepada seluruh masyarakat Palangka Raya dan sekitarnya untuk tetap waspada. Beberapa langkah antisipatif yang sangat disarankan antara lain: