Indeks saham utama Amerika Serikat tergelincir pada Senin (1/9) setelah bentrok militer antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak naik.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, terutama setelah pernyataan hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam pidato pertamanya di simposium Jackson Hole pekan lalu.
>>> Google Maps Ubah Nama Danau Ontario Jadi Lake America untuk Pengguna AS
Pelemahan ini berpotensi menentukan arah pasar pada September, yang biasanya menjadi bulan lemah bagi ekuitas, serta meningkatkan tekanan menjelang pertemuan bank sentral AS bulan depan.
Berdasarkan CME FedWatch, trader memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September mencapai lebih dari 60 persen, naik tajam dari 41,4 persen sepekan sebelumnya.
Warsh mengatakan bahwa para pembuat kebijakan mungkin perlu menaikkan biaya pinjaman jika inflasi tidak mereda menuju target 2 persen.
Analis BofA Global Research menilai, tanpa adanya kejutan negatif yang signifikan, Warsh dituntut untuk merealisasikan kenaikan suku bunga pada September.
Jika tidak, ia berisiko merusak kredibilitas yang baru saja ia bangun pada Jumat lalu.
Komentar Warsh pada Jumat di Jackson Hole, Wyoming, muncul setelah data ekonomi yang beragam dalam beberapa pekan terakhir.
Laporan inflasi konsumen bulan ini menunjukkan tekanan harga yang moderat pada Juli, namun indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang menjadi ukuran favorit Fed, lebih tinggi dari perkiraan.
Ambiguity ini meningkatkan arti penting laporan ketenagakerjaan AS bulanan yang dijadwalkan rilis pada 4 September.
Warsh menyatakan pada Jumat bahwa data terbaru tidak menunjukkan tren fundamental yang membaik secara signifikan.
Pada pukul 11.24 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 346,30 poin atau 0,65 persen ke 53.210,80.
