Sudah Berstandar SNI, Magelang Akhirnya Punya Pasar Tradisional yang Menyandang Predikat Prestisius Sebagai Pasar Terbersih Namanya
Menjadi Pasar Tradisional Ke-30 yang Dinobatkan Sebagai Pasar Terbersih Ternyata Letaknya Bukan di Semarang Atau Solo Melainkan
Pasar Tradisional Rejowinangun, Transformasi Menjadi Pasar Berstandar SNI yang Bergaya!
Menghadirkan wajah baru, Pasar Tradisional Rejowinangun telah berhasil menjadi yang ke-30 dalam deretan pasar berstandar SNI di tanah air.
Sebuah prestasi gemilang yang diraih berkat SNI 8152:2015 yang diterimanya dari Badan Standardisasi Nasional (BSN).
Standar ini, SNI 8152:2015, menjadi tonggak penting bagi pasar-pasar tradisional, menetapkan sejumlah kriteria atau persyaratan yang harus terpenuhi agar sebuah pasar bisa meraih predikat ber-SNI.
Dengan memenuhi kriteria tersebut, Pasar Rejowinangun kini berhak menyandang predikat prestisius ini.
Inisiatif standarisasi pasar ini bertujuan untuk memberikan wajah baru pada citra pasar tradisional, menjadikannya tempat yang bersih, sehat, aman, serta kios-kiosnya memiliki aturan yang teratur dan sirkulasi udara yang baik.
Keberhasilan Pasar Rejowinangun tidak hanya terpampang pada pengakuan standar, namun juga diraihnya penghargaan sebagai pasar terbaik nasional di ajang Anugerah Pancawara 2017, khususnya dalam kategori jumlah pedagang di atas lima ratus.
Penghargaan ini merupakan pengakuan atas inovasi dan strategi yang dijalankan untuk menghidupkan kembali pasar serta mengatasi berbagai masalah pengelolaannya.
Melacak sejarah, Pasar Rejowinangun telah mengalami transformasi yang signifikan.
Pada peta kuno tahun 1923, pasar ini tercatat sebagai pasar modern yang menjadi pusat perniagaan pada masa itu.
Bangunan-bangunan di Pasar Rejowinangun mengusung arsitektur dengan dinding kayu dan atap genteng.
Kehadiran pasar ini juga menjadi tempat bagi masyarakat Magelang untuk menjajakan hasil perkebunan mereka kepada para penumpang kereta yang berlalu-lalang, menunggu kedatangan kereta yang akan membawa hasil dagangan mereka.
Tidak berhenti di situ, Pasar Rejowinangun terus bertransformasi.
Pada tahun 1964 hingga 1965, pasar ini mengalami renovasi besar-besaran dengan pembangunan kios-kios dan kantor pasar.
Perkembangan pasar semakin berkembang pesat, terutama pada tahun 1976 ketika moda transportasi bus semakin menjamur.
Namun, tak selamanya cerita pasar ini mulus. Pada tanggal 26 Juni 2008, Pasar Rejowinangun mengalami musibah kebakaran yang melanda hampir seluruh bagian pasar.
Namun, semangat untuk bangkit tidak padam. Pada tahun 2011, Pasar Rejowinangun dibangun kembali dengan luas mencapai 24.435 meter persegi dengan dana investasi yang mencapai milyaran rupiah.
Kini, Pasar Rejowinangun telah mengalami transformasi total. Dengan dukungan empat puluh kamera pengawas yang tersebar di setiap sudut pasar, keamanan pasar terjamin.
Tak hanya itu, fasilitas laktasi yang nyaman juga telah disediakan untuk para pengunjung yang membutuhkannya.
Dengan perjalanan yang penuh liku ini, Pasar Tradisional Rejowinangun telah menunjukkan bahwa transformasi menjadi pasar berstandar SNI bukanlah hal yang mustahil.
Dengan semangat inovasi dan perbaikan terus-menerus, pasar ini telah berhasil mengukir prestasi gemilang dalam sejarah pasar-pasar tradisional di Indonesia.***