Potret Museum Koruptor Indonesia di Sound of Justice UGM Tuai Sorotan, Sosok Zarof Ricar Jadi Pusat Perhatian
Gelaran Sound of Justice yang digelar Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses menarik perhatian publik, khususnya kalangan mahasiswa dan masyarakat luas. Salah satu bagian paling menyedot perhatian dalam acara ini adalah kehadiran Museum Koruptor Indonesia , sebuah inisiatif yang ingin mengingatkan publik akan bahaya korupsi serta dampaknya terhadap masa depan bangsa.
Tidak hanya menjadi wahana edukasi, museum ini juga memicu berbagai reaksi dari pengunjung karena keberadaan sejumlah nama besar pelaku korupsi yang dipajang lengkap dengan foto, riwayat kasus, hingga kerugian negara yang mereka timbulkan. Di antara puluhan nama tersebut, sosok Zarof Ricar menjadi pusat perhatian utama.
Zarof Ricar, Mantan Pejabat MA yang Terjerat Kasus Korupsi Ratusan Miliar
Nama Zarof Ricar mencuat ke permukaan setelah ia divonis 16 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Tipikor pada Rabu, 18 Juni 2025. Vonis itu diberikan atas kasus gratifikasi aset senilai Rp915 miliar dan penyitaan 51 kilogram emas batangan sebagai hasil tindak pidana korupsinya. Zarof yang merupakan mantan pejabat Mahkamah Agung (MA), disebut-sebut sebagai salah satu aktor utama dalam jaringan "mafia peradilan".
Di ranah media sosial, namanya pun kembali ramai dibahas. Seorang netizen dengan akun @bacottetanggaid mencuitkan komentarnya tentang kehadiran Zarof dalam Museum Koruptor Indonesia:
"Nama Zarof Ricar nongol paling nyolok—si mafia peradilan yang katanya doyan nyuapin hukum biar hukumannya ringan."
Cuitan tersebut mendapat banyak respons dari warganet. Banyak yang merasa prihatin dengan kondisi sistem peradilan di Indonesia yang dinilai rentan dimanipulasi oleh oknum-oknum tertentu yang memiliki akses dan uang cukup besar. Ada pula yang menyampaikan sindiran pedas:
"Hadeh, keadilan sekarang udah kayak barang diskonan, tinggal bayar, dapet potongan," tulis salah satu netizen.
Ramainya Kunjungan ke Museum Koruptor Indonesia
Selama gelaran Sound of Justice , booth Museum Koruptor Indonesia tidak pernah sepi dari kunjungan. Ribuan mahasiswa dari berbagai jurusan di UGM dan universitas lain datang untuk melihat langsung siapa saja pelaku korupsi yang telah merugikan negara. Tidak sedikit dari mereka yang sengaja memfoto berbagai display informasi yang tersedia sebagai bahan refleksi maupun bahan diskusi di media sosial.
Sosok-sosok yang ditampilkan di museum ini sangat beragam, mulai dari politisi, pejabat daerah, sampai aparatur sipil negara. Kerugian negara yang mereka sebabkan pun bervariasi, ada yang mencapai ratusan miliar hingga kasus unik seperti korupsi proyek pagar laut. Salah satunya adalah kasus yang menimpa Ronald Tannur dengan nilai korupsi sekitar Rp600 juta.
Melalui pendekatan visual dan naratif yang kuat, museum ini berhasil menyampaikan pesan moral yang mendalam. Bahkan beberapa pengunjung mengatakan bahwa momen seperti ini harus terus digaungkan agar masyarakat tidak lupa akan tanggung jawab kolektif dalam memberantas korupsi.
Harapan untuk Generasi Muda
Dengan adanya Museum Koruptor Indonesia di tengah-tengah lingkungan kampus, diharapkan dapat menjadi alarm dini bagi calon pemimpin masa depan. Generasi muda diajak untuk tidak mudah tergoda oleh praktik korupsi dan tetap teguh menjaga nilai-nilai kejujuran dan keadilan.
"Kami percaya, perubahan harus dimulai dari kesadaran diri sendiri. Dan cara terbaik untuk membangun kesadaran itu adalah lewat edukasi yang tepat dan transparan," tambah panitia.