Festival belanja online terbesar di dunia, Singles' Day, tahun ini tidak lagi menggoda sebagian konsumen China. Mereka memilih menahan pengeluaran di tengah tekanan ekonomi rumah tangga.
Xiao Na, pegawai bank berusia 37 tahun di Hangzhou, mengaku tidak berencana membeli apa pun selama periode promosi berlangsung.
Ia menilai penghematan dari berburu kupon tidak sebanding dengan kerugian di pasar saham.
“Saham turun, nilai rumah terus merosot, dan gaji saya tidak naik. Menyimpan lebih banyak uang tunai adalah strategi terbaik,” ujarnya seperti dikutip South China Morning Post.
Pernyataan Xiao Na mencerminkan sikap yang lebih luas di kalangan rumah tangga China. Penurunan pasar saham dan penurunan nilai properti yang berkepanjangan telah menggerus kekayaan rumah tangga.
Banyak keluarga kini memprioritaskan pengurangan utang dan deleveraging ketimbang belanja konsumtif. Hal ini menjadi latar mengapa gelaran belanja tahunan itu kehilangan denyut.
Tekanan Pasar Saham dan Properti
Pada kuartal ketiga, indeks ChiNext yang berfokus pada teknologi anjlok hampir 28 persen. Ini menjadi salah satu penurunan kuartalan terdalam yang pernah tercatat.
Sementara itu, indeks Shanghai Composite mencatat kerugian yang lebih moderat di tengah gelombang aksi jual saham pertumbuhan dan teknologi.
Konsumsi China sepanjang tahun ini tetap lesu.
Data Biro Statistik Nasional menunjukkan total penjualan ritel barang konsumen hanya naik 1,1 persen secara tahunan pada tiga kuartal pertama.
Analis Gavekal Dragonomics, Thomas Gatley, menulis dalam catatan riset bahwa rumah tangga China masih waspada terhadap saham. Menurutnya, jatuhnya pasar A-share kembali membebani neraca rumah tangga.
Gatley memperkirakan rumah tangga akan mempertahankan tingkat tabungan yang tinggi untuk mengimbangi penurunan harga properti. Akibatnya, konsumsi diperkirakan tetap lemah.
Data China Index Academy menunjukkan harga rata-rata rumah bekas di 100 kota pada Oktober turun 0,6 persen secara bulanan dan 6,7 persen secara tahunan.
Penurunan bulanan itu sedikit melebar dari September, dengan 98 kota mencatat penurunan harga.
Kepala ekonom Huachuang Securities, Zhang Yu, menilai melebarnya kesenjangan antara pertumbuhan pendapatan dan produk domestik bruto nominal turut membuat konsumsi rumah tangga lebih hati-hati.
Ia menulis bahwa PDB nominal tumbuh sekitar 4 persen tahun lalu, sementara pendapatan pekerja migran dan gaji rata-rata perusahaan tercatat di A-share hanya naik sekitar 2 persen.
Zhang memperkirakan pertumbuhan PDB nominal mendekati 6 persen tahun ini. Namun, laporan interim dan data bulanan terbaru menunjukkan pertumbuhan upah kedua kelompok hanya sekitar 3 persen.
“Karena pertumbuhan konsumsi hampir tidak bisa melampaui pertumbuhan pendapatan, jika pendapatan naik sekitar 3 persen, konsumsi esensial dalam penjualan ritel kemungkinan berfluktuasi di sekitar level itu dan sulit naik lebih tinggi,” tulisnya.
Ia menambahkan bahwa hambatan yang menahan pelepasan potensi konsumsi belum sepenuhnya teratasi.
Dorongan Pemerintah dan Tren Melunasi Utang
Pemerintah China pekan lalu mengeluarkan 20 langkah untuk memperkuat infrastruktur terkait konsumsi.
Langkah ini bertujuan merangsang dan menyalurkan lebih banyak belanja melalui peningkatan fasilitas komersial, infrastruktur di objek wisata, serta fasilitas penitipan anak dan lansia.
Namun, banyak orang lebih fokus memangkas beban utang untuk melindungi kekayaan mereka.
Xu Xin, warga Shanghai, misalnya, berusaha melakukan pelunasan awal kredit rumahnya yang mencapai sekitar 800.000 yuan atau setara 119.800 dolar AS di China Construction Bank (CCB).
Setelah serangkaian pemotongan suku bunga, suku bunga kredit rumahnya masih berada di 3,36 persen.
“Saya bisa menoleransi suku bunga itu ketika pasar modal menguat pada paruh kedua tahun lalu dan paruh pertama tahun ini,” katanya.
“Tetapi reli teknologi telah memudar dan sentimen berubah jauh lebih bearish.
Produk manajemen kekayaan apa yang bisa memberikan imbal hasil tahunan 4 persen untuk mengalahkan biaya kredit rumah saya?
Dengan harga rumah masih turun, masuk akal untuk berhenti kehilangan uang,” ujarnya.
Xu menyebut CCB membuka slot pelunasan awal pada pukul 2 siang setiap hari kerja, tetapi slot itu cepat habis.
“Semua tanggal terdekat sudah dipesan penuh. Jadwal paling awal yang bisa saya dapatkan adalah awal Januari.
Manajer bank saya mengatakan permintaan pelunasan awal sangat besar,” tuturnya.
Meski harus menunggu dua bulan, Xu tetap mengambil janji temu tersebut karena ia bertekad melakukan deleveraging.
Sumber di divisi kredit rumah cabang Shanghai tiga bank milik negara mengatakan volume pelunasan awal kredit rumah bulanan di masing-masing bank telah melampaui 2 miliar yuan.
Angka itu membebani pertumbuhan kredit baru secara keseluruhan.
Tiga tahun lalu, volume bulanan tersebut hanya sekitar 100 juta yuan.
Pola pikir deleveraging tampaknya merata di pasar perumahan, baik di kalangan pemilik rumah yang ada maupun calon pembeli.
Data People's Bank of China (PBOC) menunjukkan kredit rumah tangga baru hampir datar pada September.
China International Capital Corporation dalam catatan riset bulan lalu menyebut angka itu menunjukkan lemahnya permintaan rumah tangga akan perumahan dan konsumsi.
“Data PBOC menunjukkan deleveraging rumah tangga berlanjut. Sementara itu, migrasi deposito melambat, pergeseran yang didorong oleh ayunan di pasar modal,” demikian isi catatan tersebut.