unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Hunian Tapak Terjangkau Dongkrak Prapenjualan Lippo Karawaci
News

Hunian Tapak Terjangkau Dongkrak Prapenjualan Lippo Karawaci

Ilustrasi proyek hunian tapak Lippo Karawaci
A A Ukuran Teks16px

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membukukan prapenjualan Rp 5,49 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, hingga 30 September.

Capaian itu setara 91 persen dari target sepanjang tahun, dengan permintaan hunian tapak di proyek kota mandiri perseroan sebagai pendorong utama.

Selain prapenjualan, LPKR mencatat pendapatan Rp 5,37 triliun, EBITDA Rp 1,11 triliun, dan laba bersih setelah pajak (NPAT) Rp 1,24 triliun.

Saldo kas perusahaan pada akhir periode pelaporan mencapai Rp 1,37 triliun.

Hunian Tapak Terjangkau Jadi Penopang

CEO Lippo Karawaci John Riady menyebut permintaan rumah tapak, terutama pada segmen terjangkau dan menengah, menjadi pendorong utama bisnis properti perusahaan.

Menurut data perusahaan, segmen hunian terjangkau dan menengah menyumbang 75 persen dari total prapenjualan.

Kontribusi tersebut mencerminkan permintaan dari pembeli rumah pertama dan konsumen yang membeli properti untuk ditempati sendiri.

Peluncuran Hunian Warisan Bangsa Serang turut menopang penjualan, dengan delapan tipe rumah berharga Rp 101 juta hingga Rp 262 juta.

John Riady menyatakan perusahaan akan mempertahankan fokus pada penyelesaian proyek serta pengelolaan operasional dan penggunaan modal.

Di segmen Lippo Karawaci (Holdco), penjualan hunian memberikan kontribusi Rp 3,24 triliun.

Penjualan unit komersial mencapai Rp 755 miliar, persediaan properti bertingkat tinggi Rp 53 miliar, kavling tanah Rp 30 miliar, serta kavling pemakaman San Diego Hills Rp 107 miliar.

Fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) membiayai 71 persen dari total penjualan selama periode tersebut.

Sementara itu, segmen gaya hidup mencatat pendapatan Rp 922 miliar, EBITDA Rp 377 miliar, dan laba bersih Rp 220 miliar, naik dari Rp 181 miliar pada periode pembanding.

Dari sisi operasional, rata-rata tarif kamar hotel berada di angka Rp 641 ribu dengan tingkat okupansi 58 persen, turun dari 60 persen.

Di sektor pusat perbelanjaan, jumlah kunjungan meningkat 1 persen secara tahunan menjadi rata-rata 11,2 juta kunjungan per bulan selama sembilan bulan pertama 2026.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru