Film animasi Korea terbaru berjudul "Pilgrims" mengangkat pertanyaan mendasar: apa artinya meninggalkan dunia tanpa kesedihan, penyakit, atau patah hati?
Apakah surga seperti itu layak untuk dipertahankan?
Diadaptasi dari cerpen Kim Cho-yeop yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, film ini berpusat pada sekelompok anak muda yang meninggalkan planet utopia yang dirancang tanpa rasa sakit.
Mereka memilih kembali ke Bumi yang penuh kekurangan dan menghadapi konsekuensi emosional dari kehidupan tanpa penderitaan.
Latar Belakang dan Antusiasme
Dalam beberapa tahun terakhir, fiksi ilmiah Korea, khususnya karya penulis perempuan seperti Kim, semakin diakui karena menyoroti isu kepedulian, perbedaan, dan batas kemajuan.
Alih-alih berfokus pada penjelajahan galaksi, karya-karya ini lebih menekankan hubungan, kerentanan, dan ambiguitas etis dari "perbaikan."
Buku kumpulan cerpen Kim, "If We Cannot Go at the Speed of Light," telah terjual ratusan ribu kopi di Korea dan diterjemahkan ke lebih dari 10 bahasa.
Ekspektasi lokal pun tinggi. Sesi temu penggemar bersama Kim dan pengisi suara utama habis terjual.
Tim produksi "Pilgrims" juga menjadi daya tarik tersendiri. Sutradara Heo Pyong-kang adalah veteran animasi TV Jepang.
Desainer karakter Wi Hyun-song pernah mengerjakan proyek internasional seperti "KPop Demon Hunters." Pengisi suara melibatkan aktor terkenal Kim Hyang-gi, Park Ji-hoo, dan Lee Joo-young.
Musik digarap oleh Hwang So-yoon dari Se So Neon, memberikan nuansa melankolis.
Kelemahan dalam Eksekusi
Meski fondasinya kuat, "Pilgrims" belum sepenuhnya memenuhi janjinya. Kelemahan paling jelas terletak pada sulih suara.
Partisipasi aktor film terkenal memang memberikan publisitas, namun kurangnya pengisi suara profesional terasa. Dialog sering terdengar tidak sinkron dengan gerakan bibir dan emosi karakter, sehingga mengurangi imersi.
Secara visual dan konseptual, imajinasi animasi film ini juga terasa lebih tipis dibandingkan temanya.
Sutradara ingin menciptakan karakter yang tidak sempurna namun dicintai, dengan gaya nostalgia yang mengingatkan pada klasik televisi 1970-an seperti "Heidi" dan "Anne of Green Gables."
Namun, desain karakter jarang cukup menonjol untuk diingat.
Beberapa pilihan visual, seperti penggambaran Bumi yang tampak terlalu dekat di langit planet utopia, terasa tidak masuk akal tanpa memberikan logika puitis yang seimbang.
Musik Hwang sering kali hadir untuk menyelamatkan adegan, membungkusnya dalam atmosfer penuh kerinduan yang tidak selalu didukung animasi.
Pencapaian dan Makna
Meskipun memiliki kekurangan, "Pilgrims" tetap menjadi tambahan penting dalam lanskap fiksi ilmiah Korea kontemporer.
Film ini terpilih untuk Festival Film Animasi Internasional Annecy ke-50, yang dijuluki "Cannes-nya animasi," dan memenangkan penghargaan di Festival Animasi Internasional Bucheon.
Film ini mungkin belum sepenuhnya menyelaraskan ide-ide luhurnya dengan keterbatasan teknis.
Namun, dengan memilih ketidaksempurnaan—baik dalam cerita maupun bentuk—"Pilgrims" mencerminkan dilema inti yang diangkatnya: apakah kesempurnaan layak diperjuangkan jika harus mengorbankan kemanusiaan?