Sutradara Guo Fan mengungkapkan bahwa naskah film The Wandering Earth 3 hingga kini masih terus mengalami perombakan besar.
Meski telah dipoles selama dua setengah tahun, tim penulis menghadapi tantangan unik akibat laju perkembangan teknologi China yang terlalu cepat.
>>> Spider-Man Brand New Day Masih Mengayun Tinggi di Puncak Box Office
Teknologi tersebut sering kali menyalip imajinasi fiksi ilmiah yang sedang disiapkan.
Teknologi China Melampaui Imajinasi
"Kami memiliki rasa bangga sekaligus kewalahan karena teknologi China berkembang begitu pesat," tulis Guo Fan melalui akun Sina Weibo seperti diberitakan Global Times pada Selasa (4/8).
Pernyataan sang sutradara dibuktikan dengan serangkaian terobosan nyata di China yang sebelumnya hanya ada di dalam naskah film.
Contohnya, keberhasilan uji coba pemulihan roket di laut dan uji teknis perangkat fusi nuklir atau 'matahari buatan' di Hefei.
Ada pula rencana misi demonstrasi pertahanan planet terhadap asteroid yang digagas badan antariksa setempat.
Konsep-konsep tersebut dahulunya merupakan imajinasi liar yang mendasari teknologi planetary engine dalam waralaba film ini.
>>> Aktris Harry Potter Lebih Cuan saat Jadi Konten Kreator OnlyFans
Kondisi tersebut membuat tim produksi harus terus mengutak-atik skenario agar tetap terasa futuristik di mata penonton.
Menurut Guo, jika dahulu pembuat film bertugas membayangkan dan para ilmuwan mewujudkannya, kini teknologi nyata justru sering kali terwujud sebelum tim sempat merampungkan ide cerita.
Oleh sebab itu, ia masih belum mengetahui rencana atau target penayangan The Wandering Earth 3.
Waralaba Fiksi Ilmiah Raksasa
Diadaptasi dari novel karya Liu Cixin, waralaba The Wandering Earth telah menjelma menjadi raksasa sinema fiksi ilmiah China.
Film pertamanya rilis pada 2019 dan berhasil mengantongi pendapatan hingga 4,687 miliar yuan.
Kesuksesan itu diikuti kehadiran sekuel empat tahun kemudian yang mencetak 4,043 miliar yuan pada 2023.
>>> Jessica Mila Buka Suara Soal Pelayaran ke Pulau Padar Saat Rute Ditutup
Peneliti dari Central Academy of Culture and Tourism Administration, Sun Jiashan, menilai penantian panjang publik terhadap babak penutup trilogi ini wujud dari keberhasilan waralaba itu merebut hati pecinta bioskop.
