unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Industri Ban 2026: Bahan Baku Naik 10-11 Persen, Permintaan Justru Melemah
News

Industri Ban 2026: Bahan Baku Naik 10-11 Persen, Permintaan Justru Melemah

Ilustrasi industri ban menghadapi kenaikan harga bahan baku dan pelemahan permintaan
Industri Ban 2026: Bahan Baku Naik 10-11 Persen, Permintaan Justru Melemah
A A Ukuran Teks16px

Industri ban menghadapi tekanan ganda sepanjang 2026.

Harga bahan baku naik 10-11 persen dibandingkan tahun lalu, sementara permintaan pasar mulai melemah pada paruh kedua tahun ini.

Presiden Direktur PT Bridgestone Tire Indonesia Mukiat Sutikno menyebut kenaikan harga bahan baku sebagai tantangan utama industri ban tahun ini.

"Untuk pemain ban, untuk tahun 2026 ini tantangan paling utama adalah terkait raw material price increase.

Karena bisa dikatakan raw material price increase dibandingkan 2025 itu naiknya sekitar 10-11 persen," kata Mukiat di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Menurut Mukiat, produsen tidak bisa langsung menaikkan harga jual sebesar kenaikan bahan baku. Alasannya, pasar sedang mengecil sehingga penyesuaian harga sulit diteruskan ke konsumen.

"Sedangkan kita tidak bisa meningkatkan harga by 10-11 persen tadi, karena market-nya masih hilang," ujarnya.

Permintaan Melemah pada Semester Kedua

Tekanan biaya itu datang bersamaan dengan perlambatan pasar.

Mukiat mengatakan pasar ban pada semester pertama 2026 masih tumbuh sekitar 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun, sejak Juli hingga September 2026, permintaan mulai menurun dibandingkan semester pertama.

"Di semester kedua ini kalau kita bilang mungkin dibandingkan semester pertama itu paling sedikit sekitar 5 persen drop.

Bahkan beberapa pangsa pasar kalau kita lihat 5-10 persen," kata Mukiat.

Menurut dia, pasar semester pertama masih terbantu momentum Lebaran. Aktivitas mudik dan perjalanan masyarakat mendorong mobilitas sekaligus pengeluaran untuk kendaraan.

Memasuki semester kedua, masyarakat mulai menghadapi kebutuhan lain, termasuk biaya sekolah dan tahun ajaran baru. Kondisi ekonomi global juga turut memengaruhi pasar domestik.

Kondisi tersebut membuat produsen ban menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni biaya produksi yang meningkat dan permintaan yang menurun.

Konsumen Menunda Penggantian Ban

Pelemahan pasar juga terlihat dari perubahan perilaku konsumen. Sebagian konsumen kini memilih menunda penggantian ban demi mengatur pengeluaran.

Konsumen masih datang ke toko untuk perawatan kendaraan seperti balancing, spooring, maupun servis. Namun, penggantian ban yang seharusnya dilakukan dalam waktu lebih dekat mulai ditunda.

"Kalau ganti sih mereka mau enggak mau kan tetap harus ganti. Tapi tadinya instead of nanti, ya bisa enggak saya tiga-empat bulan, berbalik kayak gitu.

Jadi memperlama masa pakai ban tadi," kata Mukiat.

Di tengah kondisi tersebut, produsen juga menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan masuknya berbagai merek baru, termasuk merek asal China.

Situasi ini membuat produsen tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan harga untuk menutup peningkatan biaya produksi. Produk juga harus menawarkan nilai yang dianggap penting oleh konsumen.

"Yang pastikan bagaimana kita memastikan customer cari apa sih? Satu kan tentunya dari segi safety.

Dan kedua dari segi fuel efficiency," ujar Mukiat.

Menurut dia, efisiensi bahan bakar menjadi salah satu pertimbangan konsumen karena berkaitan langsung dengan biaya penggunaan kendaraan dalam jangka panjang.

Karena itu, produsen perlu menjaga kualitas produk sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan konsumen di tengah tekanan daya beli.

"Fokus kami adalah terkait kualitas dari produk yang kita produksi di Indonesia dan bisa memenuhi apa yang diinginkan oleh konsumen," kata Mukiat.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru