Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) mengungkapkan bahwa industri tekstil nasional saat ini tengah memasuki fase sulit.
Kondisi ini dipicu oleh lonjakan harga bahan baku dan melemahnya daya saing di pasar domestik maupun internasional.
>>> RI Bahas Rencana PLTN Terapung dengan Rosatom, Siapkan Aturan
Keterpurukan sektor ini tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur nasional yang mengalami kontraksi ke level 46,9 pada Juni 2026.
Angka tersebut menunjukkan penurunan dari posisi Mei 2026 yang sempat berada di level ekspansif, yakni 50.
Tekanan dari Berbagai Sisi
Ketua Umum APSyFI, Redma Gita Wirawasta, menjelaskan bahwa industri manufaktur, khususnya tekstil, menghadapi tekanan berat dari sisi internal maupun eksternal.
Faktor-faktor seperti kenaikan harga bahan baku, gejolak nilai tukar, tingginya suku bunga, hingga harga gas industri yang mahal menjadi beban utama bagi produsen.
>>> Penyelamat Evakuasi Pria Terjebak di Reruntuhan Mal Venezuela Hampir Delapan Hari Setelah Gempa
"Kenaikan harga bahan baku, energi, dan suku bunga langsung berimbas negatif pada daya saing kami.
Jangankan bersaing untuk pasar ekspor, di dalam negeri saja pemerintah belum bisa menciptakan iklim persaingan yang kondusif antar-pelaku usaha," ujar Redma saat dihubungi pada Jumat (3/7/2026).
Menurut Redma, situasi ini semakin diperparah oleh banjirnya barang impor dengan harga dumping (jual rugi) serta maraknya aktivitas importasi ilegal yang menguasai pasar domestik.
>>> DPR Bantah RUU PFII Dikebut: Sudah Dibahas Sejak RUU PPSK
Ia menilai penurunan indeks manufaktur ini berakar pada kebijakan perlindungan produk lokal yang setengah hati serta belum mumpuninya integrasi ekosistem industri di dalam negeri.