Industri tekstil hulu Indonesia terus mengalami tekanan akibat banjir produk impor dari China yang masuk dengan sistem dumping.
Kondisi ini berlangsung setidaknya dalam tiga tahun terakhir.
>>> Driver Ojol Keluhkan Potongan Komisi 8% Tak Ubah Pendapatan
Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menyatakan bahwa praktik dumping tersebut telah memukul daya saing produk lokal.
Akibatnya, sejumlah perusahaan terpaksa menutup operasionalnya.
Sekretaris Jenderal APSyFI, Farhan Aqil Syauqi, mengungkapkan bahwa persaingan dengan China bukan satu-satunya faktor. Penurunan daya beli masyarakat juga ikut mengoreksi pertumbuhan sektor tekstil dan produk tekstil (TPT).
>>> APSyFI: Lonjakan Bahan Baku dan Impor Ilegal Tekan Industri Tekstil
Selain itu, fluktuasi nilai tukar dolar AS dan harga minyak dunia turut memperburuk situasi. Kedua faktor ini berdampak langsung pada harga bahan baku industri.
"Posisi industri hulu tekstil memang sudah lama dihantam barang impor dumping dari China, sehingga beberapa perusahaan tutup sejak tiga tahun ke belakang," kata Farhan saat dihubungi pada Jumat (3/7/2026).
Menghadapi kondisi yang semakin kritis, APSyFI mendesak pemerintah untuk segera memberikan perhatian khusus dan intervensi kebijakan. Tata niaga perdagangan dinilai menjadi kunci utama untuk mengendalikan laju impor tekstil.
>>> Antisipasi Banjir dan Longsor, Pemprov DKI Percepat Pembangunan Tanggul Kali Grogol
Langkah ini diharapkan dapat menyelamatkan ekosistem TPT nasional yang saat ini berada dalam tekanan berat akibat gempuran produk impor.
