Untuk pertama kalinya, pengunjung dapat memasuki Jeukjodang Hall di Deoksu Palace, Seoul, tempat raja-raja Joseon bekerja dan memerintah.
Pameran khusus bertajuk "Inside Jeukjodang Hall: Hands and Tools of Craft" menampilkan replika kantor kerajaan yang dibuat dengan detail tinggi.
Pameran ini berlangsung hingga 21 Juni dan membuka bangunan istana yang sebelumnya hanya bisa dilihat dari luar.
Pengunjung diminta melepas sepatu sebelum masuk untuk melihat langsung interior dan perabotan kerajaan.
Sejarah Jeukjodang Hall
Jeukjodang Hall merupakan tempat Raja Gwanghaegun (1608-1623) dan Raja Injo (1623-1649) naik takhta. Bangunan ini berfungsi sebagai kantor kerajaan hingga Junghwajeon Hall selesai dibangun pada 1902.
Raja Gojong (1852-1919) juga menggunakannya setelah kembali ke Deoksu Palace.
Di dalam ruangan, terdapat layar lipat bersulam aksara Tionghoa yang melambangkan harapan kesehatan dan kemakmuran.
Lantai dilapisi tikar anyaman bermotif tapal kuda, sementara meja raja dilapisi pernis merah—warna yang hanya digunakan untuk keluarga kerajaan pada era Joseon.
Sepasang tempat lilin besi bertatahkan perak dan empat lentera lantai kayu melengkapi suasana. Perabotan pejabat istana menggunakan pernis yang lebih sederhana sebagai kontras.
Proyek Restorasi 11 Tahun
Pameran ini merupakan bagian dari proyek "Re-creation of Interior Crafts in Palatial Buildings" yang dimulai pada 2015.
Proyek ini digagas oleh Deoksu Palace Management Office, Arumjigi Foundation, dan disponsori Hermes Korea. Tujuannya mengembalikan perabotan istana yang hilang atau hancur selama penjajahan Jepang.
Kim Bong-ryol, profesor emeritus di Korea National University of Arts, mengatakan bahwa istana dikecilkan hingga sepertiga ukuran aslinya pada masa penjajahan.
Banyak perabotan dijual ke Jepang atau dihancurkan, hanya sebagian kecil tersimpan di National Palace Museum.
Proyek ini dimulai dengan Hamnyeongjeon Hall di Deoksu Palace pada 2015, lalu Jeukjodang Hall pada 2018-2021.
Restorasi kemudian meluas ke Sajeongjeon Hall di Gyeongbok Palace (2022-2024) dan kini berfokus pada Geunjeongjeon Hall.
Kim So-young dari Arumjigi Foundation menekankan bahwa perabotan yang direstorasi bukan untuk disimpan, melainkan digunakan dan dirawat sebagaimana aslinya.
Keahlian Pengrajin Tradisional
Pameran juga menampilkan karya pengrajin yang melestarikan kerajinan tradisional Korea.
Benda-benda dibuat berdasarkan referensi dari National Palace Museum, National Museum of Korea, dan National Folk Museum of Korea.
Salah satu karya adalah tempat lilin besi bertatahkan perak buatan Choi Gyo-jun, pemegang Warisan Budaya Takbenda Seoul dalam seni tatah logam "Ipsa".
Karya tersebut direstorasi oleh muridnya, Shin Sun-yi.
Shin menjelaskan bahwa benda kerajaan yang sering disentuh lebih awet, namun karena tidak bisa dipegang bebas, risiko korosi lebih tinggi.
Ia dan gurunya merestorasi menggunakan teknik tradisional termasuk lapisan pernis.
Layar lipat "Irworobongbyeong" yang menggambarkan matahari, bulan, dan lima puncak gunung juga dipamerkan.
Layar ini direstorasi oleh pelukis Kwon Oh-chang, yang sebelumnya mereproduksi layar serupa di Gyeongbok Palace pada 1999.
Kwon mengaku kesulitan menjaga kondisi asli lukisan dari kerusakan cat dan pengelupasan.
Ia bekerja sama dengan konservator untuk memulihkan area yang pudar menggunakan pigmen mineral, emas, serta cangkang kerang yang ditumbuk halus.
Karena keterbatasan ruang, layar yang direstorasi dipajang terpisah di Dondeokjeon Hall. Pengunjung dapat melihat pameran setiap jam melalui tur berpemandu.
Pada 16 Juni, Shin Sun-yi akan membahas proses restorasi tempat lilin besi dan teknik tradisional dalam program khusus.
Informasi tiket dapat diakses melalui situs Royal Palaces and Tombs Center.