BUSAN — Untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan UNESCO pada 1988, Korea menjadi tuan rumah pertemuan Komite Warisan Dunia.
Sebuah pameran budaya besar di Busan menarik ribuan pengunjung yang ingin merasakan warisan tradisional Korea yang dipadukan dengan teknologi mutakhir.
>>> Pertunjukan Harian Warisan Budaya Korea di Sidang Komite Warisan Dunia
Sejak dibuka pada Senin di BEXCO, K-Heritage House menjadi pusat perhatian warga lokal dan peserta sidang.
Pameran khusus ini memperkenalkan aset-aset warisan dunia UNESCO Korea dan kebijakan administrasi warisan melalui empat zona tematik.
Warisan Hidup: Pengrajin Master Beraksi
Sorotan utama bagi banyak pengunjung adalah demonstrasi publik bersama para pengrajin master yang menyandang gelar Warisan Budaya Takbenda Nasional.
Mereka menunjukkan teknik tradisional yang rumit, termasuk pembuatan topi kuda (gat), sulam, kerajinan jarum, tatahan mutiara, pertukangan kayu halus, anyaman topi kuda, ukiran kayu, dan pengukiran.
Lokakarya langsung juga memungkinkan tamu membuat mini gat, gantungan kunci Hanbok, dan cangkir tumbler mutiara.
Daya tarik utama adalah demonstrasi langsung pembuatan gat tradisional, yang baru-baru ini mendapat perhatian global setelah muncul dalam film animasi "KPop Demon Hunters."
Park Hyung-park, pembuat topi kuda generasi keenam yang melanjutkan tradisi keluarga bersama ayahnya, mengungkapkan kebanggaannya berbagi kerajinan dengan audiens global.
"Pertama-tama, sangat luar biasa bisa menunjukkan bahwa kerajinan tradisional kami — warisan takbenda kami — terus diwariskan tanpa terputus," katanya.
Saat mendemonstrasikan cara membuat mini gat, Park menjelaskan bahwa topi khas Korea memiliki lengkungan halus dan anyaman bambu setipis rambut.
"Gat berevolusi dari pelindung matahari menjadi pakaian formal yang dikenakan lembut di atas kepala sebagai tanda hormat," ujarnya.
"Pengunjung asing sering takjub melihat betapa halusnya kami membelah dan menganyam bambu."
