Di dekatnya, Kuil Jingwan bersejarah di Seoul memimpin lokakarya jihwa — bunga kertas tradisional yang terbuat dari hanji (kertas murbei).
Secara historis, bunga ini dibakar setelah ritual kerajaan dan keagamaan untuk mewujudkan "estetika kekosongan," dipercaya dapat menghibur jiwa dan menyambut dewa.
>>> Museum Sejarah Seoul Hadirkan Pengalaman AR untuk Napak Tilas Masa Lalu
"Sementara banyak budaya membuat bunga tiruan dari kain, Korea unik dalam menggunakan hanji," jelas seorang biksu pemandu sambil mendemonstrasikan cara melipat bunga hydrangea kertas.
Teknologi Imersif dan Warisan Masa Depan
Pameran ini juga menyoroti Situs Kuil Hoeam di Yangju, Provinsi Gyeonggi — salah satu reruntuhan biara Buddha paling signifikan di Korea.
Di stan Kuil Hoeam, pengunjung dapat berfoto dengan realitas tertambah (XR) berlatar restorasi digital 3D kompleks kuil bersejarah, atau berdialog AI real-time dengan Raja Taejo (Yi Seong-gye), pendiri Dinasti Joseon (1392-1910).
Norfaryanti Binti Kamaruddin, pengunjung asal Malaysia, memuji perpaduan sejarah dan teknologi.
"Meskipun saya tidak begitu paham cerita sejarah Korea, saya bisa masuk ke dalam konteks istana, belajar tentangnya, dan berfoto di zona XR," katanya.
"Di bagian obrolan, saya bisa bercakap-cakap dengan raja dari dinasti sebelumnya, dan itu keren. Saya sangat kagum dengan budaya dan teknologinya."
Seorang rekan yang bepergian dengan Kamaruddin mencatat tingkat keterlibatan pengunjung yang tinggi dibandingkan konvensi internasional lainnya. "Yang paling saya suka adalah betapa interaktifnya semuanya," ujarnya.
"Anda bisa langsung mendatangi setiap stan, dan staf berinteraksi serta menjelaskan semuanya. Anda bisa merasakan mereka sangat mencintai budayanya."
Di zona teknologi, instalasi digital imersif berjudul Heritage: Timeless Time menggunakan media art dinamis untuk menafsirkan alam dengan warna-warna iridesen dari mutiara tradisional.
Ruang ini juga menampilkan reproduksi digital definisi tinggi dari Uigwe (Protokol Kerajaan Dinasti Joseon) yang terdaftar di UNESCO, ditampilkan di pilar media raksasa dan dinding video empat sisi.
Kim Ji-yeon, pengunjung asal Seoul yang datang untuk mengikuti lokakarya, mengatakan bahwa antrean panjang sepadan dengan usaha.
"Biasanya sangat sulit bepergian ke setiap daerah untuk melihat aset budaya ini," kata Kim.
"Mengumpulkannya di satu tempat di mana kami bisa mengalaminya secara langsung adalah kesempatan luar biasa."
>>> Seoul Science Center Perpanjang Jam Operasional untuk Festival Musim Panas Interaktif
Bagi pengunjung pameran, tur berpemandu profesional diadakan setiap hari pukul 10.30 dan 15.30 untuk memberikan penjelasan mendalam tentang pameran warisan utama.
