unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Awas Bahaya Makanan Tersentuh Paruh Merpati di Pinggir Jalan
Lifestyle

Awas Bahaya Makanan Tersentuh Paruh Merpati di Pinggir Jalan

Merpati mematuk jajanan di pinggir jalan
Merpati mematuk jajanan di pinggir jalan
A A Ukuran Teks16px

Video yang menunjukkan merpati mematuk jajanan pinggir jalan seperti telur gulung, sate ayam, dan sosis kembali viral di media sosial.

Kejadian ini memicu kekhawatiran publik tentang kebersihan makanan jalanan.

Di Korea Selatan, Undang-Undang Sanitasi Makanan mewajibkan makanan disimpan dan dipajang secara higienis untuk mencegah kontaminasi.

Badan Keamanan Makanan dan Obat-obatan juga merekomendasikan makanan matang ditutup agar terhindar dari benda asing.

Masalahnya, jajanan pinggir jalan lebih mudah terkontaminasi dibanding makanan di rumah atau restoran biasa.

Lingkungan penjualan di luar ruangan membuat merpati dan serangga bisa mengakses makanan, serta debu atau kontaminan lain bisa menempel.

Risiko Kesehatan dari Merpati Perkotaan

Merpati mencari makan di tempat sampah, taman, dan area sekitar saluran pembuangan. Dalam proses ini, bakteri dan spora jamur dapat menempel di paruh dan kaki mereka.

Saat merpati hinggap atau mematuk makanan, makanan tersebut bisa terkontaminasi.

Merpati perkotaan diketahui membawa berbagai patogen, termasuk Chlamydia psittaci yang menyebabkan penyakit pernapasan, dan Campylobacter jejuni yang umum menyebabkan keracunan makanan.

Campylobacter adalah salah satu penyebab bakteri paling umum dari penyakit bawaan makanan di seluruh dunia.

Bahkan dalam jumlah kecil, bakteri ini dapat menyebabkan diare, sakit perut, dan demam. Gejala bisa lebih parah pada anak-anak dan lansia.

Kotoran merpati juga menjadi perhatian.

Dalam studi tahun 2023, peneliti Korea menganalisis kotoran merpati dari 19 lokasi publik di Seoul dan mendeteksi beberapa patogen berbahaya, termasuk campylobacter, listeria, dan chlamydia.

Namun, kasus terkonfirmasi orang yang terinfeksi akibat memakan makanan yang disentuh merpati jarang terjadi.

Infeksi pada manusia lebih sering terjadi melalui paparan kotoran merpati, debu dari kotoran, atau bulu, bukan melalui konsumsi makanan.

Meski merpati peliharaan memiliki sejarah panjang digunakan untuk mengirim pesan dan masih dipelihara sebagai hewan peliharaan, merpati liar perkotaan dikelola sebagai hama karena populasi yang terus bertambah dan masalah sanitasi.

Langkah yang Harus Dilakukan

Para ahli menyarankan untuk tidak memakan makanan yang diduga telah disentuh merpati. Kontaminasi dapat menyebar melampaui area yang terlihat.

Oleh karena itu, lebih aman membuang seluruh makanan daripada hanya membuang bagian yang dipatuk.

Jika Anda mengalami gejala seperti diare, sakit perut, muntah, atau demam dalam beberapa hari setelah memakan makanan yang mungkin terkontaminasi, pertimbangkan kemungkinan keracunan makanan dan segera cari pertolongan medis.

Perhatian ekstra diperlukan untuk anak-anak, lansia, wanita hamil, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

Pemerintah Kota Seoul telah menetapkan 38 taman utama, alun-alun, dan lokasi lain sebagai zona larangan memberi makan merpati.

Individu yang kedapatan memberi makan merpati di area tersebut dapat didenda 200.000 won (sekitar Rp2,3 juta) untuk pelanggaran pertama, 500.000 won untuk pelanggaran kedua, dan hingga 1 juta won untuk tiga pelanggaran atau lebih.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru