Di tengah maraknya festival musik di Korea yang semakin besar dan megah, The Grateful Camp memilih jalan yang berbeda.
Festival ini tidak hanya fokus pada panggung dan lineup, tetapi juga pada pengalaman dan hubungan antarmanusia.
The Grateful Camp 2025 akan digelar di Pantai Jjangttungeo, Sinan, Provinsi Jeolla Selatan, pada 4 hingga 6 September.
Lebih dari 20 musisi lokal akan tampil, termasuk Galaxy Express, Seoul Electric Band, Windy City, Chang Kiha, Tiger Disco, CHS, hathaw9y, dan Radio Revolution.
Bermula dari Hutan, Kini di Tepi Laut
Festival ini pertama kali digelar pada 2020, saat band CHS mengadakan pertunjukan kecil di sebuah perkemahan di hutan Gapyeong, Gyeonggi.
Suasana alam dan penonton yang antusias menjadi fondasi lahirnya The Grateful Camp.
Direktur Eksekutif The Grateful Camp, Kim Se-hoon, menjelaskan bahwa festival ini ingin menciptakan dunia sementara di mana musik, alam, dan manusia bersatu.
"Kami menyiapkan lingkungan dan struktur, tetapi apa yang terjadi di dalamnya diciptakan oleh penonton," ujarnya.
Kim menambahkan bahwa festival ini lebih dari sekadar pertunjukan. "Musik adalah alat, bukan tujuan.
Yang terpenting adalah apa yang terjadi di antara orang-orang."
Perjalanan, Bukan Sekadar Festival
Kim menyebut The Grateful Camp sebagai "perjalanan" selama tiga hari dua malam. Artis, staf, dan penonton tinggal bersama dan membentuk komunitas.
"Kami berharap orang datang tidak hanya untuk menonton, tetapi untuk mengalami hubungan dan sensasi baru di alam."
Pemindahan lokasi dari hutan ke laut dianggap sebagai proses pertumbuhan alami. "Laut seperti alun-alun kota, tempat segalanya berkumpul dan berpisah, tempat kesendirian dan koneksi ada bersama," kata Kim.
Tantangan terbesar adalah menemukan ruang yang tepat setiap tahun. "Ruang bukan sekadar latar, tetapi elemen utama yang menciptakan pengalaman," jelas Kim.
Selain itu, keberlanjutan finansial juga menjadi kendala karena penjualan tiket saja tidak cukup.
Kim menegaskan bahwa festival ini berhati-hati terhadap pertumbuhan kuantitatif. "Kami memilih jalan yang lebih dekat dengan esensi kami.
Pertumbuhan kualitas pada akhirnya akan membawa pertumbuhan ukuran secara alami."
Momen paling berkesan bagi Kim adalah saat Sabtu malam di Yangyang pada 2024. Di bar pantai Geukrak, Tiger Disco memutar lagu "After This Night" milik Lim Jae-beom.
"Semua orang bernyanyi bersama. Ada yang mengibarkan bendera, berbincang di dekat api unggun, atau berbaring di pantai melihat bintang.
Saat itu saya merasa, inilah yang kami inginkan."
Bagi Kim, The Grateful Camp adalah tempat di mana siapa pun bisa menjadi diri sendiri.
"Mungkin The Grateful Camp adalah tempat di mana orang bisa menunjukkan siapa mereka sebenarnya dan diterima apa adanya.
Di situlah kebebasan sejati dimulai."