Kabut tipis menyelimuti lantai hutan di Chollipo Arboretum, Taean, Provinsi Chungcheong Selatan.
Pukul 06.00 pagi, belum ada satu pun pengunjung yang terlihat di area seluas 589.429 meter persegi ini.
Hanya suara klakson kapal dan kicauan burung yang terdengar di antara pepohonan.
Suasana hening seperti ini hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memulai hari lebih awal di arboretum yang dikenal sebagai 'taman dengan pemandangan laut' ini.
Sejarah Unik di Balik Arboretum
Chollipo Arboretum adalah arboretum swasta pertama di Korea. Tempat ini dibangun di pesisir yang asin, sebuah lokasi yang tidak biasa untuk arboretum.
Pendirinya adalah Carl Ferris Miller, orang Amerika pertama yang menjadi warga negara Korea naturalisasi.
Ia lahir di West Pittston, Pennsylvania, pada 1921 dan bertugas di Angkatan Laut AS sebagai perwira intelijen sebelum ditugaskan di pemerintahan militer AS di Korea pada 1945.
Setelah meninggalkan militer, Miller bekerja di Bank of Korea hingga pensiun pada 1982.
Ia kemudian mengubah namanya menjadi Min Byung-gal, terinspirasi dari nama sahabatnya Min Byung-do yang kelak menjadi gubernur Bank of Korea dan mengubah Nami Island menjadi destinasi wisata.
Miller membeli sebidang tanah seluas 20.000 meter persegi di Chollipo pada 1962.
Tanah itu tadinya tidak subur karena kadar garam tinggi dan angin laut kencang, sehingga tidak bisa digunakan untuk pertanian.
Setelah membeli, ia membuat hutan pinus sebagai penahan angin dan kolam sebagai reservoir air tawar.
Pohon-pohon ditanam satu per satu hingga lahannya berubah menjadi arboretum yang resmi dibuka pada 1970.
Miller menjadi warga negara Korea naturalisasi pada 1979. Jenazahnya dimakamkan di dalam area arboretum.
Filosofi 'Pohon adalah Tuan'
Chollipo Arboretum menganut filosofi 'arboretum tempat pohon menjadi tuan'. Kebijakannya adalah meminimalkan campur tangan manusia dalam pertumbuhan vegetasi.
Seorang pemandu arboretum menjelaskan bahwa staf bertahun-tahun berdebat apakah tanaman merambat yang menutupi pohon pinus harus dihilangkan.
'Kami memutuskan untuk menerimanya sebagai bagian dari alam dan mengelola keseimbangan agar mereka bisa hidup berdampingan,' katanya.
Ancaman mematikan seperti penyakit layu pinus tetap dicegah dengan tindakan pengendalian dini.
Karena filosofi ini, arboretum lebih fokus pada penelitian dan konservasi, dan baru dibuka untuk umum pada 2009, tujuh tahun setelah pendirinya wafat.
Keputusan membuka arboretum muncul setelah tumpahan minyak Hebei Spirit pada Desember 2007 yang melumpuhkan ekonomi lokal.
Chollipo Arboretum diharapkan menjadi daya tarik utama untuk memulihkan kawasan tersebut, dan kini dikunjungi lebih dari 200.000 orang setiap tahun.
Pesona Taman Astilbe dan Kolam Teratai
Saat awal musim panas, sudut paling memikat di arboretum adalah Taman Astilbe.
Tanaman asli Korea ini dikenal dengan nama noruojum, tetapi di luar negeri disebut Astilbe dan sering digunakan dalam karangan bunga pengantin.
Taman ini memiliki 120 taksa Astilbe dengan warna putih lembut, merah muda, merah, dan ungu.
Puncak musimnya adalah Juni dan Juli, dan bulu-bulu halus tanaman ini kini tumbuh lebat.
Kolam-kolam di Miller Garden, area publik seluas 65.623 meter persegi, mulai dipenuhi bunga teratai dan lotus.
Kolam-kolam ini awalnya dibangun sebagai reservoir air tawar, kini menjadi spot foto favorit.
Menginap di Tengah Arboretum
Pengalaman paling autentik di Chollipo Arboretum adalah menginap di dalam taman.
Terdapat tujuh rumah bergaya berbeda yang tersebar di area arboretum, mulai dari rumah tradisional Korea beratap genteng dan jerami hingga rumah bergaya Barat dengan pemandangan laut.
Setiap rumah diberi nama sesuai pohon terdekat, seperti Black Pine House yang merupakan kediaman pendiri Min Byung-gal semasa hidup.
Tamu yang menginap bebas berjalan-jalan di luar jam operasional, dari pukul 09.00 hingga 18.00.
Pada musim panas, matahari terbit empat jam sebelum pengunjung pertama datang, dan matahari terbenam dua jam setelah pengunjung terakhir pergi.
Tamu dapat menikmati taman yang sepi, seperti menyewa seluruh tempat untuk diri sendiri.
Tamu yang menginap juga bisa mengikuti program morning walk, di mana 12 pendaftar pertama dipandu ke area arboretum yang biasanya tertutup untuk umum.
Area terlarang ini mencakup hampir 90 persen dari seluruh arboretum; hanya sekitar 11 persen yang dikenal sebagai Miller Garden yang terbuka untuk pengunjung.
Tur pagi itu membawa saya ke Magnolia Garden, salah satu bagian terlarang yang terkenal.
Meski musim magnolia sudah lewat, daun besar magnolia bigleaf yang sebesar kepala manusia tetap mengesankan.
Di dalam taman terdapat Magnolia House, yang dibangun pendiri agar ibunya bisa pindah dari AS dan tinggal bersamanya di Korea.
Dari luar tampak seperti rumah tradisional Korea, tetapi di dalamnya terdapat kamar mandi bergaya Barat dan fasilitas modern untuk kenyamanan ibunya.
Gua Laut Padori di Dekat Arboretum
Wisatawan yang menginap di Chollipo Arboretum disarankan mengunjungi gua laut Padori yang berjarak sekitar enam kilometer ke selatan.
Nama Pado berarti 'gelombang' dalam bahasa Korea, mencerminkan arus dan karang yang berbahaya di area tersebut.
Gua-gua laut ini terbentuk oleh hempasan ombak selama ribuan tahun dan menjadi tempat ideal untuk berfoto.
Dua bukaan besar membingkai Laut Barat yang berkilauan, dengan pilar batu yang membagi gua dari luar namun bergabung di dalam.
Situs ini hanya bisa dicapai saat air surut, sehingga penting untuk mengecek jadwal pasang surut terlebih dahulu.
Pengunjung juga harus melewati bebatuan tajam yang dipenuhi kerang, sehingga alas kaki yang kokoh sangat diperlukan.
