Pemerintah Metropolitan Seoul menunjuk dua perajin perempuan sebagai penerima penghargaan seumur hidup di bidang kerajinan tradisional, Jumat (27/6).
Kim Yun-sun, perajin dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, ditetapkan sebagai master pertama untuk "saeksilnubi" atau quilting benang berwarna.
>>> Perjalanan Stabil Pianis Cho Seong-jin Menuju Kehebatan Musik
Sementara itu, Shin Seon-i diangkat sebagai "pendidik transmisi" untuk "ipsajang" atau tatah besi, yang bertugas melatih generasi penerus.
Perjalanan Menghidupkan Kembali Saeksilnubi
Ketertarikan Kim pada saeksilnubi bermula pada 1980 saat ia menemukan kantong tembakau antik milik kakeknya.
Ia pun mulai menganalisis artefak museum dan membeli barang antik di pasar untuk merekayasa ulang teknik tersebut.
Saeksilnubi melibatkan pemintalan potongan kertas hanji menjadi tali tipis, yang kemudian ditempatkan di antara dua lapis sutra dan dijahit rapat dengan benang warna-warni.
Hasilnya adalah relief tiga dimensi yang khas.
Teknik ini dulu digunakan untuk aksesori aristokrat kecil seperti kotak kacamata dan bidal.
Namun, pada akhir abad ke-20, saeksilnubi hampir punah dan tidak memiliki nama akademis resmi hingga penelitian Kim membantu mengkodifikasinya.
>>> Busan Gunakan K-pop untuk Tarik Mahasiswa Asing Tinggal Setelah Lulus
Kerja teliti Kim akhirnya membawanya berkolaborasi dengan merek mewah seperti Louis Vuitton.
Ipsajang: Seni Tatah Logam yang Terancam
Shin Seon-i, murid dari master ipsajang Choi Kyo-jun, fokus pada seni tatah logam.
Ipsa adalah teknik memahat alur mikroskopis pada besi atau perunggu, lalu mengetuk kawat emas atau perak ke dalam alur untuk menciptakan motif rumit.
Karena membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya besar, kerajinan ini lama terancam punah. Shin berhasil menjembatani pelestarian sejarah dengan seni kontemporer global.
Selain mereplikasi tempat lilin perak bersejarah untuk koleksi museum di Eropa, karyanya yang berjudul "Embracing Lotus" menjadi finalis Loewe Foundation Craft Prize.
"Para perajin ini telah menghabiskan hidup mereka untuk mempertahankan identitas tradisional kita," ujar Huh Hye-kyung, Kepala Divisi Pelestarian Warisan Seoul.
>>> Penulis Prancis Ajak Pembaca Korea Ikuti Panggilan Jiwa, Bukan Kesuksesan Materi
"Kota akan memberikan dukungan berkelanjutan untuk memastikan teknik rapuh ini tetap stabil dan dapat diakses publik."
