Tindakan ini juga merupakan tindakan skismatik, yaitu pemutusan kesatuan Gereja Katolik secara sengaja.
SSPX didirikan oleh Uskup Agung Marcel Lefebvre dari Prancis pada tahun 1970 sebagai bentuk penentangan terhadap reformasi modernisasi Konsili Vatikan Kedua.
Konsili pada tahun 1960-an itu merevolusi hubungan Gereja Katolik dengan Kristen lain, Yahudi, dan pemeluk agama lain, serta mengizinkan Misa dirayakan dalam bahasa setempat.
Pada tahun 1988, tepat 38 tahun lalu, Lefebvre menahbiskan empat uskup tanpa persetujuan paus. Vatikan segera mengekskomunikasi Lefebvre dan keempat uskup itu.
Paus Benediktus XVI pada tahun 2009 mencabut ekskomunikasi tersebut, namun SSPX hingga kini tidak memiliki status hukum dalam gereja.
SSPX menuduh gereja modern penuh dengan ajaran sesat dan kesalahan, termasuk modernisme, liberalisme, dan ekumenisme.
>>> Butuh Rp1.064 Triliun, Pramono Perkuat Strategi Pembiayaan Pembangunan Jakarta
Kelompok ini bersikeras bahwa hanya SSPX yang menjunjung tinggi iman sejati Kristus dan membenarkan pentahbisan dengan alasan 'keadaan darurat' untuk melayani umatnya.
Keempat uskup baru itu adalah Pascal Schreiber dari Swiss, Michael Goldade dari Amerika Serikat, Michel Poinsinet de Sivry dari Prancis, dan Marc Hanappier, juga dari Prancis.
Reaksi dan Perayaan
Dalam homilinya, pemimpin SSPX, Pastor Davide Pagliarani, membela pentahbisan sebagai hal yang diperlukan untuk keselamatan jiwa, tetapi juga menegaskan bahwa tindakan itu melayani Paus dan gereja.
Kami dituduh tidak menghormati paus, kata Pagliarani. Tetapi justru karena kami mencintai paus sebagai wakil Kristus, kami tidak ingin melihat paus dipermalukan lagi.
Vatikan belum memberikan komentar segera.
Meskipun ada ancaman, upacara hari Rabu berlangsung meriah. Situs web pentahbisan telah menampilkan hitung mundur selama berhari-hari.
Peserta menerima topi bisbol dengan segel 'Econe2026'. Tersedia juga paket hadiah anggur seharga 75 franc Swiss ($92,50) untuk memperingati acara 'bersejarah' tersebut.